Home » » Pemerintah Bergerak Lambat, Honor Guru Bantu DKI Empat Bulan Tertahan

Pemerintah Bergerak Lambat, Honor Guru Bantu DKI Empat Bulan Tertahan

Written By Guru Bantu DKI on Senin, 22 April 2013 | 08.53



Mungkin itulah bedayan antara Gaji dan Honor. Begitu tanggapan seorang guru bantu DKI Jakarta mensikapi Honor Guru yang belum kunjung cair. Kalau gaji jelas priode pembayarannya, sebulan sekali setahun 12 kali setidaknya itu berlaku umum, walaupun bagi Pegawai Negeri Sipil menerima 13 kali dalam setahun.

Honor berbeda lagi pembayarannya, tidak tentu  dan tidak pasti. Maksudnya walaupun tentu setiap bulan, tetapi selalu tidak pasti tanggalnya. Tidak ada kepastian akan diterima tanggal berapa persetiap bulannya. Bahkan memasuki tahun 2013 ini, urusan kepastian semakin buram. Buramnya tidak lagi terkait dengan tanggal yang tidak menentu, tetapi  buramnya sudah terkait dengan bulan yang tidak pasti, karena sejak Januari tahun 2013 Guru Bantu DKI belum menerimanya.

Di awal tahun 2013 Guru Bantu DKI bisa mengerti kenapa terlambat, selanjutnya berusaha memahami kenapa terlambat, karena itu merupakan bagian dari “tradisi” keterlambatan tahunan. Dapat dipahami dan dimengerti jika satu atau dua bulan terlambat. Jika sampai  empat bulan atau lima bulan tertunda, mengutip satu kata dalam lagi H. Rhoma Irama, “terlalu” maksudnya identic dengan keterlaluan.

Keterlaluan waktu tertunda itu setara dengan 1/3 tahun, lebih kurang 120 hari. Bagi PNS yang menerima gaji setiap bulan, hal seperti ni tidak terlalu menjadi persoalan, walapun masih banyak yang berharap peningkatan dari sisi jumlahnya. Tetapi berbeda dengan Guru Bantu DKI, hal seperti ini terkait langsung dengan hajat hidup 5000 lebih keluarga guru.

Honor itu tidak semata-mata digunakan untuk konsumsi, tetapi juga untuk dukungan transportasi dari dan ke tempat kerja, hal ini yang sering sekali Pemerintah terkait tidak peka, tidak mengerti, dan tidak memiliki rasa empati, kalau tidak mau disebut tidak peduli.

Guru Bantu DKI juga manusia yang komitmenya sama dengan PNS lainnya, bahkan militansi dan komitmenya sudah jelas untuk mendidik, mencerdaskan dan membangun karakter warga bangsa yang berbudaya. Tapi kenapa pemerintah tidak responsive, tidak cepat dalam menanggapi kondisi social ekonomi sebahagian profesi yang hidup di kota megapolitan Jakarta, dimana defenisi gratis dalam hidup telah terkubur dangan sangat dalam dibawah gedung gedung pencakar langit Jakarta.

Persoalan tertundanya honor  Guru Bantu DKI, disinyalir sangat erat hubungannya dengan lemahnya komunikasi public dan rendahnya kinerja pemerintah dalam melakukan tugas yang menjadi pekerjaan rutinnya. Lemahnya komuniukasi public pemerintah dibuktikan dengan tidak adanya penjelasan, mengapa tertunda, dan apa sebabnya.

Lemahnya kinerja pemerintah dibuktikan dengan prosesnya, ini pekerjaan rutin tahunan yang dilakukan oleh orang –rang yang sudah berpengalaman, bukankah sudah menjadi keharusan semakin maju suatu bangsa dan pemerintahan, akan semakin modern dan cepat pula pola pelayanan yang diberikan kepada steakholdernya.  Tugas pemerintah itu melayani, karena itulah para guru sering mengajarkan “ jika ingin menjadi raja harus belajar dan tulus melayani dengan kualitas terbaik dan istimewa”

Keterlambatan ini sungguh memprihatinkan, pemerintah perlu memahami bahwa masalah adalah harapn yang tidak sesuai dengan kenyataan, hal ini terjadi karena perencanaan yang serampangan dan koordinasi yang menggampangkan keadaan.

Perencanaan yang baik layaknya berhasil dan berbuah baik. Kinerja pemerintah dalam distribusi anggaran pendidikan sangat jelek. Tidak ada kecepatan dan kecermatan, padahal kerja seperti ini kerja pengulangan sepanjang tahun. Kabinet Indonesia bersatu SBY membentuk kementrian PAN dan Reformasi Birokrasi. Ini reformasi yang pantas dan sangat layak dipertanyakan, Reformasi semu dalam administrasi aparatur Negara. Rakyat tidak akan pernah melihat proses walaupun itu buah dari segala hasil seminar yang dilakukan di bulan. Rakyat akan menilai hasilnya, dan hasilnyan  ibarat orang pengemplang pajak selalu  akan melaporkan SPTnya NIHIL.

Kementrian PAN dan Reformasi birokrasi tidak menanamkan layanan prima dan berkelas kepada para aparaturnya sehingga minim strategi dan minus inovasi dalam melaksanakan tugas dari tahun ketahun berjalan. Hal ini sangat memberi kesan kepada public bahwa program sangat berbanding terbalik dengan capaian, sama sekali tidak linier dan berhubungan.

Santer terdengar kabar di banyak mass media, baik itu media cetak, media elektronik, dan media online, bahwa keterlambatan pencarian anggaran disebagian besar program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih “dibintangi” oleh Kementerian Keuangan, sehingga anggaran tertunda. Inilah indicator yang paling nyata dari lemahnya perencanaan dan koordinasi.

Pemerintah SBY memiliki Menteri Koordinator yaitu Menko Kesra terkait dengan bidang pendidikan dan Menko Ekonomi terkait dengan bidang keuangan. Pertanyaannya apa yang mereka koordinasikan selama ini, apalagi sekarang Menko Ekonomi sekaligus merangkap Menteri Keuangan. Untuk apa Menteri Koordinator jika antara kementerian saling “membintangi” dan yang dirugikan adalah rakyat terutama dalam sektor pendidikan masyarakat. 

Istilah selama ini dalam sirkus: Gajah bertarung gajah, yang lain terjepit di tengah dan pawangnya jadi penonton. Rakyat Indonesia tidak akan lupa bagaimana pemerintah mengawali perencanaan pendidikan nasional dan pengelolaan anggaran di tahun 2013 ini, terlambat, tertunda, danm tidak jelas tengat waktunya.

Mudah mudahan catatan ini terbaca oleh anda semua dan menggugah rasa kebangsaan Anda, sehingga anda semua bekerja lebih cepat, lebih cermat, dan berempati pada rakyatnya, dan jangan pernah lupakan pesan guru; Jika anda ingin menjadi raja dimasa depan, anda harus belajar dan tulus melayani di hari ini. Semoga Indonesia, khususnya pendidikan Nasional Indonesia, menjadi lebih baik dan terus berkembang di masa mendatang*/Irwantra.
Share this article :

2 komentar:

ryan mengatakan...

Begitulah aparatur dan pemerintah, tidak sigap tidak cepat. Semoga tulisan ini terbaca oleh mereka, pedas dan original jika penulisnya seorang guru pasti murid muridnya merasa bangga, ada guru yang berbeda, aktual berani dan cerdas.

Anonim mengatakan...

Ayo Pemerintah, Jika Guru saja tidak terperhatikan...bagaimana bisa pendidikan kita diharap maju

 
Support : Creating Website | Guru Bantu DKI | Irwantra EDP
Copyright © 2011. Guru Bantu DKI Jakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger