Selamat Datang Di Media Center GB-DKI Jakarta

Latest Post

Petisi Di Antara Aspirasi dan Apresiasi GB-DKI

Written By Guru Bantu DKI on Senin, 31 Maret 2014 | 12.01

Contoh Visual Sebuah Petisi Buruh
Terbaca oleh kita semua isitlah "Petisi" dalam berbagai literatur, Petisi lebih berkonotasi kepada  sebuah dokumen yang isinya memprotes, surat resmi kepada Pemerintah. Petisi lebih bermakna gugatan, permohonan, tuntutan atau permintaan. Petisi fokus sekali kepada persoalan itu. sehingga secara umum Petisi lebih kepada pemaknaan "Gugatan" atas keadaan yang dianggap tidak fair, tidak adil, tidak terlayani, tidak terakomodasi. 

Petisi seringkali digunakan sebagai cara untuk menyampaikan pendapat kepada "kekuasaan" yang tidak mau mendengar, tutup mata dan tutup telinga atas gugatan yang logis dan berdasar. Petisi juga terkadang dijadikan sebutan gerakan 'Putus asa" oleh "kekuasaan" kepada kelompok yang menggugat. Petisi adalah satu dokumen yang berisi butir-butir pernyataan yang tidak hanya dirasakan oleh seseorang, tetapi akumulasi dari pernyataan banyak orang, lintas gender, lintas suku dan agama, bahkan terkadang lintas negara.

Petisi pada akhirnya membuat dua pihak yang bisa dilihat secara jelas, juga dengan perbedaan sikap dan pendapat yang terungkap secara tegas. Jika dimaknai dalam frase yang lebih santun Petisi itu lebih kepada kegiatan menyampaikan aspirasi secara tertulis, dimana tulisan itu merupakan hasil dari berbagai masukan yang mewakili perasaan bersama.

Berbeda dengan Petisi, maka Apresiasi adalah menyatakan keadaan sebaliknya. Apresiasi lebih kepada ungkapan untuk memberikan rasa empaty, rasa simpaty atas kepedulian dan sikap mengakomodir dari satu tuntutan dan "gugatan" atau juga sikap mengakomodir dari sebuah permohonan. (Tepat atau tidak) silahkan Bapak/Ibu Sahabat GB-DKI melengkapinya.

Penggunaan istilah ini mungkin sering kita abaikan, misalnya seorang yang akan menghadiri undangan resepsi pernikahan, mengatakan dengan "keseleo lidah" bahwa mereka akan menghadiri persepsi pernikahan, atau dugaan salah sangka dalam sebuah rapat, dinyatakan dengan "anda telah salah resepsi".

Membaca isi "Petisi" dalam sebuah blog yang akan dipersiapkan oleh GB-DKI untuk Gubernur DKI Jakarta, pada 1 April 2014, menurut saya silahkan saja, termasuk diwajibkan membawa copy SK-GB DKI 2 lembar. Silahkan kepada teman-teman GB DKI mensikapinya, Namun jika membaca isi petisi yang akan disampaikan secara pribadi saya lebih memilih judulnya Apresiasi Kepada Gubernur DKI dari Pada Petisi kepada Gubernur DKI. (Benar atau tidak istilah ini) tentu sahabat GB-DKI bisa menelaahnya lebih dalam, baik karena bidang keilmuannya mupun karena dukungan literatur yang ada. Saya tidak bisa membatu, Saya juga tidak punya pikiran untuk menggangu, hanya bermaksud memberikan arti dari sudut pandang yang berbeda/[iP]

Update Status Facebook Melalui One Heart GB-DKI Jakarta

Screenshot gbdki.blogspot.com
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Guru dalam berbagai Grup GB-DKI atau sebagian pengguna internet memiliki acount facebook. Coba perhatikan di sekeliling kita, banyak sekali account Facebook dengan awalan Guru, coba saja memulai pencarian dengan kata kunci (Guru) pasti jawabannya sangat banyak tersedia. 

Menurut facebook, pengguna facebook di Indonesia  menduduki urutan ketiga terbesar pengguna facebook setelah Amerika Serikat dan Inggeris (data 3 juni 2010) dan mungkin Bapak/Ibu telah mendapatkan data terakhir pengguna Facebook di Indonesia pada tahun 2014
.
Pertanyaan selanjutnya adalah kita membuka facebook rata-rata untuk apa? secara rata-rata kita membuka facebook adalah untuk update status. Beberapa pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita tahu fasilitas apa saja yang ada di facebook, apakah kita merasa aman menggunakan facebook, apakah kita tahu bahaya menggunakan facebook? Sudahkan kita menggunakan facebook untuk meningkatkan kepentingan kita secara aman dan tepat, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar facebook yang perlu kita gali lebih dalam.

Memiliki account facbeook, sesungguhnya dapat digunakan sebagai media promosi yang epektif, jika kita menggunakannya secara bijak dan tepat. Pertanyaannya tetap kembali kepada alasan mengapa kita harus memiliki facebook, kecuali jika satu-satunya alasan adalah untuk sekedar bersiraturahmi dan berkomunikasi dengan saudara, kolega, dan pencarian teman lama.

Dalam menggunakan Facebook kita juga harus tahu hal-hal yang harus dihindari seperti membuat banyak profile dengan nama samaran kecuali ada alasan khusus dan logid, spaming email, mencantumkan data pribadi yang sangat sensitif; Cukup luangkan waktu singkat dalam  sehari berkunjung ke facebook dengan tak mengabaikan tujuan kita yaitu membangun relasi jangka panjang.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam jangka waktu terbatas itu  adalah Update status, lihat status friends di News Feed dan pilih siapa yang ingin anda lihat, ucapkan ulang tahun pada teman, berikan komentar atau like untuk newsfeed yang berhubungan atau share, cek inbox dan jawab. Dengan hanya meluangkan waktu terbatas, dan jangan sampai mengganggu pekerjaan utama kita sebagai Guru.
Tentu Bapak/Ibu GB-DKI sering melihat status FB dengan tulisan dikirim via
  • BlackBerry Smartphones App
  • Android Smartphones App
  • Samsung Smartphones App
  • Nokia Smartphones App
  • Windows Phone
  • Android dan lain sebagainya yang merupakan perangkat teknologi yang digunakan untuk menyampaikan status Facebooknya.
Berikut adalah alternatif lain dalam menuliskan status FB yang dikirim via: "One Heart GB-DKI Jakarta" tentu trick ini bukan merupakan aplikasi dari program yang rumit, namun demikian terkadang cukup menghibur dan membuat rasa penasaran "Mengapa bisa ya"? iya jawabnya bisa saja kalau kita terbiasa dengan otak atik... Mau mencoba silahkan klick link dibawah ini, GB DKI akan dihubungkan dengan dinding Facebook melalui "One Heart GB-DKI Jakarta" tidak lagi tertulis melalui Blackberry atau Nokia Smart Phone.

CLIK DISINI UNTUK STATUS BARU FACEBOOK GB-DKI JAKARTA 

Link di atas dapat juga ditemukan pada halaman depan blog www.gurubantudki.blogspot.com. Sebenarnya banyak cara yang dapat digunakan untuk memodifikasi FB yang kita kelola caranya berkunjung dan dalami di  Developers.Facebook

Semoga informasi yang sedikit ini bisa menambah manfaat dalam menggunakan facebook dalam waktu terbatas dengan pengelolaan yang maksimal / Irwan Putra.

Ayo Belajar Bersama Dengan Gemar Menulis

Written By Guru Bantu DKI on Minggu, 30 Maret 2014 | 21.23

GB-DKI Online 31 Maret 2014 - Menulis adalah proses transformasi gagasan, pikiran, isi hati maupun imajinasi dalam bentuk bacaan, lalu tulisan itu akan terbaca oleh masyarakat, diharapkan kemudian bacaan itu dapat merubah pola pikir, sikap dan tingkah laku ke arah yang semakin positif, setidaknya seperti itulah pendapat saya.

Pentingnya Menulis
Mungkin sebagian kita belum menyadari pentingnya menulis, tetapi percayalah dengan menulis kita bisa mendapatkan kepuasan di hati, setidaknya pikiran dan isi hati kita bisa terpublikasikan dan terbaca oleh banyak orang. Lebih dari itu tulisan kita bisa saja tidak bermakna diwaktu sekarang, akan tetapi muncul sebagai daftar pustaka dimasa mendatang : Menurut pengalaman saya ada beberapa manfaat ketika kita terbiasa menulis : 

1. Mengekspresikan Isi Hati
Dengan Menulis kita bisa mengekspresikan apa yang ingin kita ungkapkan,Mungkin banyak yang belum menyadarinya sering kali kita menulis untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan,sebagai contoh saja update status di facebook atau men tweet ungkapan hati di twitter dan atau mengungkapkan isi hati kita melalui blog pribadi kita.

2. Berbagi Informasi Kepada Pembaca
Salah satu manfaat lain dari menulis adalah kita bisa berbagi informasi kepada semua masyarakat yang membaca tulisan kita, walaupun ada komentar yang tidak setuju namun kita tetap ingin terus berbagi informasi kepada semua pembaca,lama kelamaan tulisan yang kita tulis akan mendapat penerimaan, yang terpenting adalah tulisan harus jujur, original, dan bermanfaat bagi pembaca

3. Melengkapi Kewajiban Belajar
Jika sahabat GB-DKI seorang Mahasiswa (Barangkali sedang melanjutkan pendidikan) yang masih belajar dierguruan Tinggi ,tentu  pernah mendapatkan tugas dari pembimbing kita,nah kebanyakan tugas itu akan membutuhkan kemampuan menulis baik menulis dengan tangan maupun dengan Komputer(Mengetik). Yang pasti adalah kapasitas sebagai seorang Guru, kemampuan menulis ini merupakan sisi lain dari media menyampaiakan pengetahuan kepada pembaca, terutama kepada peserta didik dalam segala bentuk media yang dihasilkan oleh seorang guru.

4. Sebagai Cara Lain Menambah Penghasilan
Tanpa kita sadari sudah banyak orang yang menjadikan menulis sebagai tambahan penghasilan bahkan menjadikan menulis sebagai penghasilan utama yang menjadi tulang punggung mereka,sebagai contoh mereka yang bertugas di media cetak maupun media informasi online,tanpa menulis mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan.

Diatas adalah beberapa fungsi menulis, namun masih banyak lagi fungsi fungsi menulis yang tidak bisa saya jabarkan disini,dan tentu sahabat-sahabat GB-DKI akan mampu menjabarkan fungsi-fungsi lain dari menulis. Dengan fungsi-fungsi diatas menjadi logis jika menulis  sangatlah penting bagi kehidupan manusia apalagi yang hidup di zaman yang serba modern ini.

Menulis berkaitan erat dengan membaca. Kedua aspek ini yang kemudian mampu meningkatkan imajinasi kita "imagination is more important than knowledge". Tanpa imajinasi, kita tidak akan tergerak untuk mencari ilmu baru. Seperti kata Tria Brilian tentang imajinasi. Membaca akan lebih meningkatkan kinerja otak dibandingkan dengan hanya melihat gambar. Karena dengan membaca, otak kita akan membayangkan tulisan-tulisan tersebut. Sedangkan dengan melihat gambar, otak kita  hanya terbiasa dengan sesuatu yang sudah 'jadi'.

Kepada sahaba-sahabat GB-DKI ayo kita menuliskan gagasan dan pikiran kita, terutama dalam kaitan peningkatan mutu pendidikan Nasional Kita. Tulisan tulisan itu bisa disesuaikan dengan jenjang dimana kita bekerja sebagai seorang Guru, tentu banyak aspek yang dapat kita bahas, baik dari sisi guru sebagai fasilitator pendidikan , dari sisi kelembagaan, dari sisi pemerintah sebagai regulator, dari sisi standar-standar pendidikan yang diberlakukan, dan semua hal yang bersinggungan dengan sektor pendidikan.

Webblog GB-DKI akan mempublikasikan tulisan Bapak/Ibu GB-DKI Jakarta, dengan mempertimbangkan: Tulisan yang original, menginspirasi, bermanfaat, dan menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar. Media ini hanya bermaksud sebagai wadah "berlatih" untuk mempublikasikan tulisan Bapak/ibu GB-DKI, Jika ada media lain yang lebih populer tentu media itulah sebagai pilihan terbaik untuk mempublikasikannya.

Admin Webblog ini akan mempertimbangkan untuk merealisasikan manfaat menulis untuk Bapak/Ibu Guru Bantu-DKI seperti yang diurakan pada poin 1 sampai dengan point 4 di atas. Khusus untuk Point 4 (empat) kami akan melakukannya dengan cara Transfer Pulsa, Baik untuk keperluan Mobile Phone atau Pulsa Modem Internet dengan nominal tertentu sesuai dengan kapasitas tulisannya pada minggu pertama di setiap awal bulan. Sebelum dipublikasikan tulisan dari Bapak/Ibu GB-DKI akan di verifikasi oleh 2 (dua) Orang yang berpengalaman di media online. sertakan NIGB dan Nomor HP/Modem yang digunakan. dan kirimkan via email ke: email@irwantra.esy.es.

Ayo kita terus belajar bersama, untuk peningkatan kualitas secara bersama-sama. terkadang banyak hal yang bisa kita lakukan dengan segera, namun banyak juga hal yang membuat pikiran kita mengirimkan pesan untuk menunda-nunda. Mudah-mudahan Bapak/Ibu GB-DKI senantiasa semakin maju, sukses dan terus menjadi garda terdepan dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. [iP]

Belajar Untuk Mengapresiasi, dan Menganalisa Semua Informasi

Written By Guru Bantu DKI on Sabtu, 29 Maret 2014 | 06.34

Sekarang kita sering melihat banyak sekali orang-orang yang terkadang terlihat berlebihan dalam mengkritik orang lain bahkan kritikan itu terkesan berubah menjadi seperti celaan dan bahkan mengarah kepada suatu bentuk penghinaan. 

Hal ini sering terjadi dan bisa "menghinggapi siapa saja, bisa karena kesengajaan atau bisa juga karena maksud tertentu yang bersifat "memberikan kesan negatif" kepada seseorang atau kelompok.

Harus dipahami dan betul-betul kita pikirkan, sering sekali sebuah informasi ditanggapi dengan kritikan balik, sehingga yang didapat bukan lagi hal yang positif, malah menyakiti hati orang lain dan membuat suatu relasi yang berlangsung baik menjadi terganggu.

Sebenarnya kita sama sekali tidak berhak untuk menghakimi ataupun mencela apakah seseorang itu baik atau tidak. Kita sering memandang seseorang hanya dari sisi luarnya, bahkan untuk seseorang yang sudah kenal dekatpun tidak bisa 100% mengetahui apa isi hatinya. Karena sebenarnya yang Maha Tahu dan hakim yang paling adil hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jadi kita sebaiknya menjaga ego kita, jangan menjadi sombong atau cenderung gemar merendahkan orang lain, apalagi jika seseorang itu telah berbagi, baik itu waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kita semua. Mari kita hargai sesama kita, terima saja semua informasi yang kita terima itu, lalu menganalisanya dengan baik dan mendalam, kemudian memutuskan untuk mengikutinya atau malah menyimpannya karena bisa jadi akan berguna di lain waktu.

Jauhkanlah sikap mencela, merendahkan, atau barangkali tanpa disadari ucapan kita secara lisan atau tulisan berpotensi memfitnah kebaikan orang lain. Mari berusaha melihat lebih banyak kepada kelebihan yang dimiliki orang lain, dengan menghargai gagasannya, cara berfikirnya, informasi yang dibagikannya, bantuan-bantuannya yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan dampak yang luas kepada GB-DKI, Jika kita menghargai orang lain, baik secara pribadi maupun kelompok, maka kita telah  menjaga harmoni dalam hubungan sosial, lebih dari itu akan ada ketenangan dan kedamamaian dalam hati kita.

Dalam kaitan dengan GB-DKI kepada orang-orang yang telah peduli secara pribadi maupun kelompok kepada kita semua, dari kelompok manapun datangnya, baik melalui aksi-aksi yang dilakukannya, maupun yang dikoordinasikannya, bahkan telah meluangkan waktu untuk mewakili kita semua "menerobos" sekat-sekat yang rapat di lingkungan birokrat, serta begitu banyak informasi yang dibagikannya, dan konstribusi dalam segala bentuknya kepada Komunitas GB-DKI, seharusnyalah kita memberikan apresiasi yang tinggi, bukan malah mencurigainya dan dikaitkan dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Berpolitik (walapun itu terjadi sebenarnya sah-sah saja) karena sisi lain dari kepentingan organisasi adalah mencapai satu tujuan dalam segala bentuknya, bisa tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Sering disebut "jangan-jangan untuk tujuan politik". Berorganisasi itu adalah berpolitik, setidaknya belajar berpolitik dalam arti yang luas, bukan politik praktis yang berkonotasi kekuasaan pada level negara.

Yang harus cermat adalah kita semua GB-DKI untuk membaca arahnya, dan tentu Hak semua pribadi-pribadi untuk menentukan sikapnya, yang tidak baik adalah kemudian mencelanya, apalagi sampai memfitnahnya (saya juga tidak punya bukti ada yang memfitnah) tapi selalu melihat orang lain dari sisi baiknya adalah tindakan yang sangat mulia dan terpuji.

Informasi terkadang dengan mudah bisa kita dapatkan di alam kemajuan teknologi seperti sekarang ini, namun ternyata tidak mudah di sebahagian kita untuk menganalisanya, sehingga sering timbul reaksi yang berlebihan yang terkadang tidak perlu terjadi. Informasi itu kemudian berpotensi memunculkan kesalahpahaman antara pemberi dan penerima pesan. Perbedaan persepsi yang diterima oleh penerima pesan dengan pesan yang disampaikan, hal ini sering terjadi karena perbedaan pengetahuan dan penerimaan, perbedaan pengalaman dan perbedaan dalam memaknai bahasa.

Sebelum merespons suatu informasi ada baiknya kita lakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Baca dengan jelas informasi yang didapat
  2. Apakah informasi itu terkait dengan kepentingan kita
  3. Dari mana sumber informasi itu diperoleh
  4. Apa kapasitas dan jabatan sumber informasi yang dimaksud jika berasal dari pejabat pemerintah
  5. Jika informasi itu sudah valid, apakah sudah dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang diwilayah kita berdomisili.
  6. Jika informasi itu valid, tetapi belum resmi diwilayah kita, ada baiknya untuk mempersiapkan diri, karena selalu bersiap-siap akan lebih baik daripada tergesa-gesa.
  7. Jika informasi itu tidak valid, bisa jadi valid bagi orang lain, maka kita sebaiknya menentukan sikap untuk melakukan atau tidak, tetapi tidak untuk menyebarkan atau menyebutkan  informasinya "menyesatkan"
  8. GB-DKI adalah kelompok masyarakat terdidik, ada kemampuan untuk menilai dan membedakan informasi, mana yang kredibel dan informasi mana yang "gosip" maka teguhkanlah keyakinan dan pendirian dalam bersikap
  9. Dalam hubungan GB-DKI dan status kepegawaiannya, sudah pasti akan ada ketentuan, petunjuk dan perangkat lain yang resmi yang bersumber dari Pemerintah, dalam kaitan ini Forum-Komunitas-Kelompok-Perhimpunan GB-DKI dan orang-orang yang mewakilinya tidak memiliki fungsi birokrasi, sahabat-sahabat kita hanyalah bersifat "komite" untuk membantu kita semuanya.
  10. Untuk mempercepat tugas-tugas pemerintah dalam satu pekerjaan administrasi, dimungkinkan untuk memberi ruang partisipasi masyarakat, misalnya dalam kaitan GB-DKI sering sahabat-sahabat kita sampai terlibat bersama-sama birokrat melakukan tatakelola administrasi GB-DKI, Jika sahabat kita jenis ini kita ragukan informasinya, lalu siapa lagi yang mesti kita percaya.
Secara pribadi saya sangat mengapresiasi sahabat-sahabat GB-DKI yang rela berbagi informasi, baik  yang saya terima melalui lisan, mapun saya baca pada beberapa media. Saya khawatir jika semua informasi yang kita dapat lalu kita tindaklanjuti semuanya, bukan tidak mungkin hidup akan berada pada titik cemas terendah. 

Percayakan saja kepada pemerintah untuk bekerja dan secara aktif untuk mengawasinya, apresiasi semua sahabat yang telah membantu,  dan pastikan untuk tidak ketinggalan informasi. Hidup akan indah jika kita memiliki hati yang bersih, selebihnya pastilah sahabat-sahabat saya GB-DKI lebih mampu untuk menjabarkannya./[iP]

Jokowi Menerima Perwakilan Gurubantu DKI Di Balai Kota

Written By Guru Bantu DKI on Minggu, 23 Maret 2014 | 10.59

Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu cita-cita dari perjuangan kemerdekaan bangsa indonesia. Cita-cita ini ditindaklanjuti dengan menempatkan pendidikan sebagai sektor pembangunan yang sangat penting dan selalu memperoleh prioritas dalam program-program pembangunan yang dirancang pemerintah.

Sangat wajar jika bidang pendidikan mendapat perhatian maksimal dari kita semua. Hal ini mengingat sektor pendidikan menjadi jantung bagi kehidupan sebuah bangsa. Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan dengan berhasil tidaknya bangsa mendidik warganya. Jika pendidikan yang di lakukan berhasil niscaya sebuah bangsa akan maju, dan sebaliknya jika pendidikan  yang dilakukan gagal maka bangsa akan mengalami kemandekan atau kegagalan, dan semua itu sangat ditentukan oleh Guru sebagai salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan nasional kita
video


Bermuara Pada Status Kepegawaian dan Kesejahteraan

Selasa, 4 Desember 2012, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan, janji pemerintah sejak 2004 untuk meningkatkan kesejahteraan guru bukan isapan jempol belaka. SBY mengklaim dunia pendidikan saat ini sudah lebih baik. Maka itu, SBY juga menginstruksikan pejabat daerah tidak hanya memberikan janji-janji palsu kepada rakyat. Janji-janji itu harus diwujudkan untuk membawa kebaikan untuk rakyat.


"Apa yang kami pikirkan dan kami lakukan ini bukan sekedar berbicara atau talk only. Tetapi juga kami kembangkan dalam sejumlah kebijakan, peraturan dan aksi-aksi nyata agar semua itu bisa dilaksanakan. Not only talk, tapi juga take action," kata SBY saat berpidato di Peringatan Hari Guru Nasional dan Ultah PGRI di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/12).

Pemerintah, lanjut SBY, terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendidikan di seluruh Tanah Air, termasuk kualitas dan infrastrukturnya, peningkatkan kompetensi dan kesejahtaraan guru. SBY pun terus berkeliling Indonesia melihat keadaan pendidikan secara nyata.
"Bukan saya tidak percaya kepada menteri gubernur serta kepada bupati dan walikota, tetapi sebagai pemimpin saya berkewajiban untuk melakukan pengawasan dan memberikan koreksi-koreksi jika diperlukan, terutama menyangkut hal-hal yang belum baik," jelasnya. Dalam pidatonya tersebut, SBY menginstruksikan kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk memperjelas peraturan pemerintah soal kepemiluan. Ini menyangkut peran guru dalam keterlibatan guru yang sering menjadi korban politik kepemiluan.

"Tidak boleh membawa guru di arena politik. Tidak boleh membawa birokrat ke arena politik. Mereka harus netral dan independen. Kalau mereka mempunya hak politik masing-masing ada aturannya. Silakan gunakan hak politik masing-masing dengan aturan yang ada, tapi jangan campur adukkan kepentingan orang seorang, yang itu menyangkut negara, pemerintah dan profesi yang bebas dari kepentingan politik praktis," jelas SBY.

Guru bantu DKI terus berupaya untuk mendapatkan  kejelasan status kepegawaiannya, bukan semata-mata karena sebagaimana pada uraian Presiden SBY di atas, lebih dari itu merupakan perjuangan untuk mendapatkan keadilan sebagai sebuah profesi, dan kesetaraan dalam perlakuan oleh Pemerintah. 

Perlu dipahami oleh semua pihak, bahwa sebutan "Demonstrasi" yang dialamatkan kepada Gurubantu DKI tidaklah selalu tepat, aksi-aksi yang dilakukan oleh GB-DKI dibeberapa lokasi, baik di Kementerian terkait maupun Balai Kota adalah bagian dari hak menyampaikan aspirasi, karena ke tempat itulah GB-DKI merasa tepat untuk menyampaikan keluh kesah, bukan hanya karena mereka Pejabat Pemerintah, lebih dari itu meraka adalah Pemimpin Rakyat, hal itulah kemudian yang dilakukan oleh Perwakilan GB-DKI beberapa waktu belakangan ini, untuk langsung bertatap muka dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo../ Sumber Video (Iing.S)

Mulutmu Harimaumu

Written By Heru Widhi Handayani on Rabu, 08 Januari 2014 | 05.44

Pepatah lama ini pengingat kita untuk hati-hati dalam berkata-kata. Berpikir dahulu sebelum berucap. Adakah manfaat atau kerugiannya. Adakah justru kata-kata yang kita ucapkan akan berubah menjadi harimau yang siap menerkam diri kita?

Soal pepatah ini saya jadi teringat dengan kata-kata Anas Urbaningrum, mantan ketua umum Partai Demokrat yang mengatakan siap digantung di Monas bila ketahuan sepeserpun korupsi dalam proyek Hambalang. Lalu media elektronik juga sosial media ramai-ramai mengulasnya. Sampai saat ini pun berita hangat menyoroti keengganan Anas dipanggil KPK untuk kedua kalinya.

Nah, dalam diskusi di jejaring dunia maya (Forum Guru Bantu DKI Jakarta, Forum Komunikasi Guru Bantu Indonesia, dan Komunitas Guru Bantu DKI Jakarta) beberapa kali saya menandai ada yang menirukan perkataan seseorang yang siap diiris kupingnya bila guru bantu DKI Jakarta tidak diangkat PNS hingga Desember tahun lalu. Menurut hemat saya, seperti halnya pada Anas Urbaningrum, menjadi menarik bila dalam hal ini mengupas apa yang menjadi motivasi seseorang itu demikian?

Apakah ini yang dinamakan kepercayaan diri atau percaya diri yang berlebihan (overconfidence)?

Psikolog W.H. Miskell di tahun 1939 mengatakan “Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat." Dari pengertian tersebut jelas percaya diri merupakan sifat yang sangat positif. Saya menekankan pada "dapat memanfaatkan secara tepat." Dalam pandangan saya, klausa ini menyiratkan bentuk tanggung jawab dari sikap percaya diri seseorang dalam pengaktualisasian di dalam masyarakat. Termasuk dalam hal ini sesuatu yang logis atau masuk akal.

Hal ini jelas tidak sejalan dengan perkataan "gantung di Monas" atau "iris kuping" tadi. Secara nalar saja ini tidak masuk akal. Seandainya benar Anas korupsi kasus Hambalang, apakah benar akan digantung di Monas? Siapa yang menggantung? Bagaimana dengan hukum yang berlaku di republik ini? Seandainya Desember 2012 sejumlah 5.922 guru bantu DKI Jakarta tidak diangkat PNS, apakah benar seseorang tersebut akan bersedia diiris kupingnya?

Pernyataan tersebut jelas bukan refleksi dari percaya diri. Justru merupakan bentuk dari sikap percaya diri yang berlebihan, dengan kata lain sombong. Ini merupakan bentuk sikap percaya diri yang palsu. Pelaku berharap dengan ucapannya ia dianggap hebat lantaran merasa paling benar dengan ucapannya. Bentuk lain dari percaya diri yang berlebihan lainnya adalah sering membanggakan apa yang menjadi miliknya atau apa yang telah dilakukannya.

Sikap ini berujung pada antikritik dan selalu mencari pembenaran akan kehebatannya dengan berbagai cara: sembunyi-sembunyi--malu-malu--maupun terang-terangan.

Penyebab dari percaya diri yang berlebihan tersebut selain dari ketidakmampuan kontrol diri juga disebabkan tekanan dari lingkungan (faktor intern dan ekstern individu). Lingkungan di sini adalah lingkungan terdekat dari individu itu sendiri yang menuntutnya berperan terlalu banyak atau besar. Akibatnya si individu tertekan dan harus menunjukkan kebisaannya meski dengan menebas batas logika.

Saya tarik ke belakang pada satu pengalaman saya mendatangi pertemuan salah satu kelompok guru bantu prapemilihan gubernur DKI Jakarta. Di sana seorang pengurus dengan mengebu-gebu menyatakan bahwa jika Jokowi berhasil menjadi gubernur maka para relawan guru bantu yang tergabung dalam tim sukses pemenangan gubernurlah yang pertama kali diangkat PNS. Selanjutnya melalui kewenangan mereka (pengurus) membuat prioritas guru-guru bantu yang aktif dalam kegiatan yang didahulukan untuk PNS. Hal ini ditandai dari absensi kehadiran dalam setiap acara.

Saya sempat mendebat seorang ibu yang keukeuh mempertahankan pendapatnya bahwa inilah keputusan politis, tidak bisa diganggu gugat. Guru bantu adalah khusus alias spesial tanpa bisa menjelaskan kekhususannya di mana. Sambil dia menambahkan bahwa guru bantu sepenuhnya harus mendukung salah satu partai pendukung sang gubernur sebagai bentuk konsekuensi politik. Doktrin yang sedemikian cepat merasuk dari sang pemimpin kepada para pion. Logika dibolak-balik: menafikkan peran aparatur pemerintah, berkesan---maaf--sak penake udele dewe (semaunya sendiri).

Logika inilah yang dibalikkan kembali dengan pernyataan "iris kuping" tadi. Pada kenyataannya hingga akhir Desember tidak ada pengangkatan PNS bagi guru bantu. Bila sumber pernyataan tersebut mau mempertanggungjawabkan perkataannya, siapakah yang sanggup menjadi eksekutornya? Kalaupun ini sampai terjadi bisa-bisa si eksekutor terancam masuk jeruji kena delik pidana penganiayaan? Wah berabe kan?

Nah, lantaran kadung malu ucapan tidak sesuai dengan kenyataan maka siap-siap pelaku melakukan cuci tangan. Caranya bisa dengan menyalahkan pihak ketiga. Cuci tangan ini agaknya mulai dilakukan, sayangnya ia lupa bahwa kotoran bukan di tangan melainkan di mukanya. Jadi, masih jelas kelihatan./Hwh


Fenomena Bunda Putri

Written By Heru Widhi Handayani on Kamis, 19 Desember 2013 | 16.10

Karya foto adalah salah satu bentuk dokumentasi yang bisa disimpan dalam kurun waktu tertentu. Hampir semua aktivitas manusia bisa difoto untuk dijadikan dokumentasi. Ini tujuan yang mendasar mengapa orang menyukai berfoto.

Beberapa hari ini saya melihat foto-foto perempuan yang berambut pendek terpampang di koran maupun tayangan berita nasional. Ia yang kemudian dikenal dengan sapaan Bunda Putri berfoto dengan beberapa pejabat. Ada fotonya bersama mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, atau sedang berada hangat dengan keluarga mantan Menpora Andi Malarangeng, juru bicara istana Dipo Alam, atau Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh.

Pada mulanya nama Bunda Putri muncul dalam rekaman telepon yang diputar jaksa di persidangan. Dalan rekaman itu, Ridwan Hakim, putra ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin menyerahkan teleponnya kepada Bunda Putri untuk berbicara pada Lutfi Hasan Ishaaq (mantan Presiden PKS) .

Dalam kesaksiannya, LHI menyatakan bahwa Bunda Putri kerap menyampaikan pesan-pesan penting Presiden Susilo Bambang Yudoyono kepada pimpinan-pimpinan partai. Ia menjadi penghubung dari pembina partai.

Takurung Presiden SBY membantah dengan menyatakan seribu persen tidak mengenal Bunda Putri. Apalagi mengenai resuffle kabinet, dalam keterangan lain, presideng mengatakan bahkan istri presiden pun tidak diberitahu--apalagi Bunda Putri.

Bunda Putri menjadi sosok bisu yang terlihat dalam foto-foto yang berkesan dekat dengan beberapa pejabat. Dan jati diri Bunda Putri hingga kini pun belum tersibak pada khalayak. Dalam beberapa pemberitaan Bunda Putri erat kaitannya dengan broker atau makelar proyek yang melingkupi pemerintahan. Takpelak, foto-foto dirinya dengan sejumlah petinggi negara bertujuan salah satunya untuk memuluskan usahanya.

Menariknya sosok Bunda Putri yang misterius ini bisa juga melekat pada kita. Ada kalanya kita suka sekali berfoto dengan orang-orang ternama, bisa artis bahkan pejabat. Foto-foto tersebut seolah mewakili momen kedekatan kita dengan yang bersangkutan. 

Soal pejabat, saya jadi ingat dengan Jokowi-Ahok, pemimpin DKI Jakarta yang dekat membaur dengan warganya. Pada banyak kesempatan mereka menjadi sosok yang paling diminati untuk diajak foto bersama. Jokowi sendiri, bahkan nyaris membebaskan warga berfoto dengannya, tidak ada sekat antara pajabat ataupun warga. Ada juga warga yang "saking merasa akrabnya" terkadang merangkul pundak orang nomor satu di ibukota negara tersebut. 

Lalu kebiasaan apa yang dilakukan selepas mendapatkan kesempatan berfoto dengan pejabat? Foto dengan Jokowi, misalnya, kemungkinan akan dicetak, dipajang di rumah-rumah, atau pada saat ini sesaat selesai berfoto langsung mengunggah di dunia maya.

Apakah salah? Tentu tidak. Karena semua itu manusiawi dengan didorong oleh rasa mengaktualisasikan keberadaan kita, di antara pejabat atau tokoh tersebut. 

Ada yang salah dengan bentuk pengaktuliasasian diri tersebut. Ini berkaitan dengan tema tulisan saya. Kesalahan terletak pada motif bila dengan sengaja kita menggunakan foto-foto tersebut untuk menggiring suatu opini, tambahan lagi memberikan keterangan yang tidak sesuai. Contoh sederhananya, kita mempunyai suatu kegiatan. Pada kesempatan lain kita berfoto dengan pejabat. Nah foto dengan pejabat tersebut kita sebarkan dan diberi keterangan bahwa foto itu diambil saat pejabat itu menghadiri atau meresmikan kegiatan kita. 

Tentu bukan merupakan suatu kebohongan bila memang pejabat itu memang hadir dalam rangka meresmikan kegiatan tersebut. Namun, sekali lagi, bila foto diambil di luar acara, pada momen berbeda, inilah yang saya maksud pembohongan. Dengan kata lain timbullah fenomena Bunda Putri pada masyarakat kita./Hwh

Menolak Pasrah

Written By Heru Widhi Handayani on Kamis, 12 Desember 2013 | 06.30

Beberapa waktu lalu ada curhat kawan kita yang sakit dan hendak operasi. Sebagai guru--bantu--keluhannya apalagi kalau bukan menyoal biaya. Saya pernah menuliskan di blog gurubantudki tentang guru bantu dilarang sakit.

Maksud tulisan saya adalah betapa biaya rumah sakit mahal dan belum tentu sekejap sanggup kita bayarkan. Tidak ada jaminan kesehatan. Sekalinya ada KJS ternyata belum menyentuh guru bantu seluruhnya. Hanya rumah sakit tertentu yang bisa memenuhi klaim KJS, sementara sobat kita yang sudah sedemikian parah masuk rumah sakit terdekat dan berapa hari kemudian langsung diambil tindakan operasi. Dan tentu saja, biaya sendiri.

Saat saya coba intip akunnya mencari tahu di mana dia dirawat, saya tergugah dengan sosok anak balita. Laki-laki. Putranya. Saya terkesiap, teringat anak saya sendiri yang baru lima tahun. Selain menyoal kesehatan, bukankah sebagai guru kita paham betul bagaimana pentingnya pendidikan untuk anak-anak kita? Dan sudah jamak di negeri ini pendidikan yang baik adalah berbayar mahal. Dan seberapa sanggup kita membekali anak-anak kita dengan pendidikan yang baik?

Hampir sebagian dari kita tentu merasakan betapa pedih harus ditahan manakala anak-anak kita yang notabene anak guru kesulitan membayar uang ujian, uang semesteran lantaran honor per bulan tidak jelas kapan cairnya. Dan seolah pemerintah tutup mata tentang realita ini lantaran sampai detik ini kita pun hanya nyaring berkeluh pada dinding-dinding dunia maya.

Akankah realita ini akan berulang kembali pada tahun-tahun mendatang? Sementara usia memasuki senja. Kaki tidak selincah dulu dalam melangkah. Tenaga sedikit terkuras langsung membuat kita jatuh sakit, kecapekan.

Apakah kita cukup diam berharap PNS? Sementara kenyataan menunjukkan sampai detik ini kita masih harus memperjuangkannya. Paling tidak memperlihatkan pada pemerintah akan ketersia-siaan 5922 guru bantu di DKI Jakarta.

Apakah cukup kita kembali meraung-raung di dunia maya saat honor telat, sambil menenggelamkan diri pada mental terjajah, mental pasrah yang salah kaprah. Inilah yang disebut mental block. Mental block ini menghalangi pikiran sadar seseorang dari tindakan positif yang memberdayakan. Pikiran jelek yang terus menyaput hati kita akan menjadikan kita selalu jadi orang kalah.

Apakah kita terlalu ngotot untuk PNS? Seolah hidup tidak berarti tanpa menjadi PNS. Tidak kawan, jangan giring pikiran kita kemari. Guru bantu DKI Jakarta justru telah membuktikan belum jadi PNS saja sudah mempunyai banyak prestasi kerja. Apalagi kalau sudah PNS, maka makin bersinarlah mutiara yang selama ini berkubang dalam penderitaan.

Sekali lagi ini bukan masalah ngotot atau tidak untuk PNS. Ini masalah hak. Ayo kawan, hak kita PNS! Maka rebutlah! Perjuangkanlah!/Hwh

Kepadamu Wahai Pemerintah GB-DKI Bertanya???

Written By Guru Bantu DKI on Senin, 09 Desember 2013 | 12.37




Palembang, GB-DKI Online Keseriusan Pemerintah  SBY untuk mempersiapkan penyelesaian status Guru Bantu DKI setidaknya sampai hari ini  hanyalah sebuah ‘omong kosong’ belaka. Setidaknya Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kemenpan & RB masih belum menepati apa yang telah disepakati bersama Pemda DKI, dan Komisi II DPR-RI terhadap penyelesaian status kepegawaian Guru Bantu DKI Jakarta.

Nyatanya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  hingga saat ini belum merealisasikan Surat Gubernur DKI Jakarta tgl. 8 Maret 2013, tentang  kewajiban alokasi formasi bagi Guru Bantu DKI Jakarta, sesuai kesepakatan di Komisi II yg dihadiri oleh Pemda DKI, Kemenpan Kementrian pendidikan dan kebudayaan.
Surat gubernur DKI yang dikirimkan kepada Kemenpan & RB pada tanggal 1 Nopember 2013 tentang kuota tambahan guru bantu DKI Jakarta untuk CPNS juga belum di tindaklanjuti secara tepat, cepat dan terukur. 

Jawaban berdasarkan fakta dan data dari Pemda DKI  memperkuat  kenyataan bahwa Pemerintah SBY melalui Kemdikbud dan Kemenpan & RB secara  berulang-ulang, tidak dapat melepaskan diri dari politik seribu janji yang dimaksudkan untuk memberikan harapan semu kepada Guru Bantu DKI

Perlawanan Guru Bantu DKI Akan Terus Terjadi

Perlawanan terhadap kebijakan diskriminatif oleh pemerintah kepada Guru Bantu DKI pada masanya akan berubah menjadi perlawanan Guru Bantu DKI secara masif. Opini Guru Bantu DKI (GB-DKI) mulai terkonsetrasi pada isu kesepakatan Kemendikbud, Kemenpan, Pemda DKI dan Komisi II DPR-RI bahwa tanggung jawab terbesar sesungguhnya ada pada Pemerintah Pusat

Tidak ada tindak lanjut terhadap dua kali surat Gubernur DKI Jakarta kepada Kemdikbud dan Kemenpan nyata-nyata telah “melukai” mental dan kesabaran. Haruskah GB-DKI melakukan unjuk rasa kembali tiga kali sehari seerti minum obat untuk menyembuhkan luka hatinya? Perlawanan pada kebijakan pusat ini menjadi wajar, jika komitmen yang telah disepakati tidak ditunaikan, dalam arti lain ini di sebut penghianatan“ dan penghianatan ini lebih kejam dari pembunuhan, setidaknya pembunuhan karakter GB-DKI yang secara nyata telah menjadi bola pimpong oleh pemerintah.

GB-DKI kembali dihadapkan pada kebingungan dan ambigunya sikap pemerintah dibawah kendali SBY pada kebijakan status kepegawaian GB-DKI. Katanya  Berniat untuk menyelesaikan semua permasalahan Guru Non PNS tapi faktanya hanya wacana dan tebar pesona semata. Pemerintah lebih melihat status K2 yang lebih jelas payung regulasinya, GB-DKI seperti "dibunuh" pelan-pelan. Disaat pemerintah menghadapi tuntutan GB-DKI secara marathon selama 10 tahun belakangan, kebijakan pemerintah SBY ternyata tidak jelas dalam menuntaskan persoalan GB-DKI.

Kemanakah pemerintah bersikap?

Belum ada kemajuan yang berarti atas sikap pemerintah kepada mayoritas GB-DKI, pemerintah seperti ingin mempertahankan status quo (Quo Vadis). GB-DKI, membutuhkan solusi dari pemimpin yang anti diskriminasi dan keberpihakan pada semua jenis profesi yang di biayai dari APBN. Dengan kondisi GB-DKI seperti ini, apakah Presiden Republik Indonesian Susilo Bambang Yudhoyono dan jajarannya akan kembali memberikan janji-janji yang lebih manis atau mengakhiri politik diskriminatif terhadap GB-DKI

Berhadapan dengan situasi di atas, dan untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi tuntutan GB-DKI, Guru Bantu DKI kembali secara terbuka mendesak beberapa hal berikut yang disampaikan kepada Pemerintah, Lembaga Negara dan Pemerintahan Provinsi DKI, antara lain :

Presiden Republik Indonesia, agar:

  • Membatalkan seluruh kebijakan diskriminatif kepada Guru Bantu DKI atas nama status, tempat bertugas, moralitas, kompetensi dan
  • Memastikan komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemdikbud), Kementerian Pendayagunaan aparatur Negara dan RB (Kemenpan & RB), dan Komisi II DPR-RI tentang komitmen peningkatan status dan kuota CPNS GB-DKI Jakarta. 
  1. Pemerintahan Provinsi DKI: Menindaklanjuti dengan cara menelusuri semua proses penyelesaian CPNS GB-DKI dan menganulir semua tindakan diskriminatif yang dilakukan atas dasar aturan yang tidak setara. Sehingga terjaminnya hak-hak semua warga Negara terutama dalam bidang pendidikan yang GB-DKI terlibat secara langsung di dalamnya bagi penyelenggaran dan pelayanan pendidikan warga DKI yang berkualitas dan optimal 
  2. Di tingkat nasional dan DKI perlu ditingkatkan pengetahuan dan sensitivitas pemerintah kepada profesi guru khususnya GB-DKI pada isu yang selama ini menjadi target perjuangannya,  agar Pemerintah dapat membuat terobosan kebijakan dan program penyelesaian yang komprehensif bagi bagi mayoritas GB-DKI, dan mohon berkenan semua kalangan masyarakat termasuk mass media perlu turut mengawasi dan mendukung pelaksanaan perjuangan GB-DKI dalam menuntut Hak Asasinya./*Irwantra

Usaha dan Doa Yang Belum Selesai

Publikasikan Pikiran Anda

Kami menerima dan menerbitkan tulisan sahabat pembaca, akan sangat kami hargai jika tulisan yang dikirimkan sesuai dengan tujuan Guru Bantu DKI Jakarta, terkait status dan masa depannya sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan
Tulisan dapat dikirimkan melaui:

1. amahyas@gmail.com
2. budi92@gmail.com
3. kashkaya@gmail.com

Kami tunggu tulisan dan komentar yang menarik dari sahabat semuanya, dan kami mohon maaf belum bisa memberikan insentif untuk mengganti tulisan yang diterbitkan.

Wasalam

Berita - Politik

News.Detik

Chat Box GB-DKI Jakarta

VIVA News

 
Support : Creating Website | Guru Bantu DKI | Irwantra EDP
Copyright © 2011. Guru Bantu DKI Jakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger