Selamat Datang Di Media Center GB-DKI Jakarta

Latest Post

Saatnya Indonesia Memilih Presiden Yang Ideal

Written By Guru Bantu DKI on Rabu, 21 Mei 2014 | 07.06

Calon Presiden Republik Indonesia
Pilpres 2014 tidak lama lagi akan digelar untuk menentukan presiden pilihan rakyat Indonesia antara Jokowi dengan Prabowo yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014. Kita sebagai rakyat Indonesia tentu akan ikut serta mengikuti pemilu presiden untuk turut menentukan arah dan masa depan bangsa Indonesia tercinta untuk 5 tahun ke depan.

Capres  Jokowi akan berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai cawapres. Capres Prabowo akan berpasangan dengan Hatta Rajasa sebagai cawapres. Mereka semua adalah putra-putra terbaik bangsa Indonesia yang akan memimpin negara kita, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, pasangan inilah yang sudah ditetapkan sesuai proses dan mekanisme yang berlaku.

Perolehan Suara dan Persentase Nasional
  1. PDIP 23.681.471 suara (18,95%)
  2. Golkar 18.432.312 suara (14,75%)
  3. Gerindra 14.760.371 suara (11,81%)
  4. Partai Demokrat 12.728.913 suara (10,9%)
  5. PKB 11.298.950 suara (9,04%) 
  6. PAN 9.481.621 suara (7,59%)
  7. PKS 8.480.204 suara (6,79%) 
  8. Nasdem 8.402.812 suara (6,72%)
  9. PPP 8.157.488 suara (6,53%)
  10. Hanura 6.579.498 suara (5,26%)
  11. PBB 1.825.750 suara (1,46%)
  12.  PKPI 1.143.094 suara (0,91%)
Apa makna yang terefleksi dari angka perolehan tersebut?.  Setidaknya ada tiga pesan utama yang dapat kita tangkap; 

Pertama, masyarakat sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan sesuai pertimbangan logis dan realistis.  Hal ini ditunjukkan oleh keberagaman pilihan dan penyebaran sikap politik masyarakat yang semakin terdistribusi merata dan tidak terkonsentrasi pada satu partai karena alasan emosional misalnya mengikuti trend atau terkesima oleh popularitas tokoh partai.  

Kedua, perolehan ini juga menunjukkan rasa ketidakpuasan dan kekecewaan masyarakat terhadap partai besar dan partai penguasa yang selama ini tidak kunjung memberikan solusi konkrit bagi kesejahteraan rakyat, bahkan malah berbuat sebaliknya.  Sebagian masyarakat mulai kapok dengan partai besar sehingga memilih untuk mencari alternatif baru yang mengusung semangat perubahan atau kembali kepada nilai-nilai ideologis tradisional yang dimilikinya dengan memberikan mandat kepada partai tengah seperti PKB, PAN dan PPP yang suaranya meningkat signifikan.  

Ketiga, ini yang perlu diperhitungkan juga bahwa sebagian masyarakat belum terlalu yakin dengan sosok calon-calon presiden  yang saat ini dimunculkan, dan mencoba mencari dan berharap hadirnya calon-calon alternatif penyeimbang yang tidak kalah bobot dan kapasitasnya dengan memilih partai lain yang belum memperjelas siapa calon presiden definitifnya.  Alasan terhadap hipotesa ini sangat sederhana, jika sebagian besar masyarakat sudah sangat yakin dengan Jokowi, ataupun Prabowo maka pastilah partainya menang mutlak misalnya di atas 30%.tepai faktanya Jokowi yang di dukung PDIP telah memperoleh dukungan 18, 95% dan Prabowo yang di usung Gerindra 11,81%, walaupun sesungguhnya tidak ada jaminan pemilih partai tertentu waktu pemilu legislatif akan konsisten memilih capres yang diusungnya.

Jika rakyat pemilih saat pemilu legislatif akan konsisten memilih capres yang diusungnya, maka jumlah pemilih yang diperkirakan akan memilih Prabowo atau memilih Jokowi adalah 11,81% + 18,95% = 30,76% saja. Jika seseorang sebagai contoh memilih Partai Nasdem saat pileg yang sekarang mengusung Jokowi-Jusuf Kalla, tentu tidak bisa dipastikan akan memilih Jokowi, bisa saja memilih Prabowo-Hatta. artinya masih ada sekitar 69,28% Suara pemilih yang harus diperebutkan oleh pasangan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. dukungan partai koalisi secara kelembagaan baru akan epektif jika dilakukan dalam kerangka tugas-tugas legislatif (DPR). Pengaruh partai koalisi dalam pemilihan presiden, walau tidak bisa disebut tidak berpengaruh kepada calon pemilih, tetap saja hasilnya tidak bisa dipastikan, karena secara umum ditemukan pemilih saat Pileg bukan selalu berbasis ideologi partai, tapi banyak unsur-unsur berpengaruh: Kekerabatan, suku, budaya, agama dan ekonomi.

Akibat perolehan suara yang terdistribusi merata dan tidak menonjol untuk satu partai, maka tidak ada pilihan lain bagi setiap partai kecuali untuk membentuk koalisi yang pas dalam menghadapi Pemilihan Presiden pada bulan Juli mendatang.  Harapannya adalah jangan ada lagi koalisi populis yang hanya terkonsentrasi pada satu nama capres.  Pengalaman menunjukkan bahwa eforia yang berlebihan dan emosional terhadap satu tokoh selalu berakhir dengan kekecewaan.  

Di satu sisi, masyarakat ingin menimbang lebih dalam bagaimana partai pemenang pemilu dengan tokoh capresnya yang sangat popular dapat mempresentasikan keseriusan komitmen untuk berubah sehingga tidak kembali akan mengecewakan rakyat sebagai pemilih.  Pada sisi yang lain, masyarakat pun merindukan calon alternatif yang bisa menjanjikan komitmen yang berujung kepada kesejahteraan riil bangsa ini.  Jadi, koalisi yang ideal adalah koalisi yang dapat mempertegas posisi partai dalam menjawab kekecewaan masyarakat selama ini, serta koalisi yang mampu menjanjikan perubahan ke arah yang lebih baik. Maka, seyogyanya koalisi partai yang telah terjadi merupakan hasil   perhitungan cermat dari setiap partai. 

Koalisi Yang Dipimpin PDIP
Koalisi ini telah dapat dibentuk oleh partai pemenang pemilu yaitu PDIP dengan menggandeng Partai Nasdem, PKB dan Hanura  Perolehan suara dari keempat partai ini adalah dominan diangka 39,97%
  1. PDIP 23.681.471 suara (18,95%)
  2. PKB 11.298.950 suara (9,04%) 
  3. Nasdem 8.402.812 suara (6,72%)
  4. Hanura 6.579.498 suara (5,26%)
Dari keempat Partai politik diatas dengan platform dan ideology partai yang hampir seragam yaitu mengobarkan semangat nasionalisme dan NKRI, maka koalisi ini dapat merepresentasikan partai besar yang akan berkomitmen untuk tidak akan mengecewakan massa pemilihnya di masa mendatang agar tidak terjadi lagi keraguan dan kekecewaan lebih lanjut  pada pemilu 2019 nanti.  Pasangan Capres-Cawapres yang telah diusung oleh koalisi ini adalah  Jokowi-Jusuf Kalla.

Koalisi Yang Dipimpin Gerindra
Koalisi dibawah pimpinan Gerindra adalah dengan format yang beragam, Gerindra, PAN, PPP, dan PKS. serta kemungkinan akan didukung oleh 2 partai peserta pemilu lainnya Golkar dan pada masanya oleh Demokrat. Koalisi ini tidak kalah menarik dan kuatnya, yaitu 32,72% saat mengusung Prabowo-Hatta Rajasa, dan kemungkinan akan ada tambahan dukungan di parlemen dari Golkar dan Demokrat 25,65% lagi.
  1. Golkar 18.432.312 suara (14,75%)
  2. Gerindra 14.760.371 suara (11,81%)
  3. Partai Demokrat 12.728.913 suara (10,9%)
  4. PAN 9.481.621 suara (7,59%)
  5. PKS 8.480.204 suara (6,79%) 
  6. PPP 8.157.488 suara (6,53%)
Pemilu presiden 2014 bisa dipastikan rakyat akan semakin dewasa dan berdaulat dalam menentukan pilihan terbaiknya, karena masyarakat disuguhkan dengan calon yang berimbang dan sama-sama berkualitas.  Pun, masyarakat memiliki pilihan kecenderungan untuk melihat garis nyata perbedaan setiap program dan calon yang ditawarkan.

Apa Yang Harus Dilakukan Presiden Terpilih 

Jika  Joko Widodo atau Prabowo Subianto berkesempatan memimpin Indonesia lima tahun ke depan, tentu harus melanjutkan program-program pemerintahan Presiden SBY yang dianggap sudah baik dan berpihak kepada rakyat, seterusnya mengimplementasikan program-program baru yang lebih progresif bagi kehidupan bangsa dan bernegara.

Penulis ingin menitipkan 6 dasar pemikiran untuk Indonesia Hebat, Indonesia Berdaulat, dan Indonesia yang makmur berkeadilan:

  1. Pemimpin adil dan melindungi: Sebagai pribadi sekaligus Presiden yang tidak membedakan-suku bangsa dan agama, meletakkan kepentingan Negara dan rakyat diatas kepentingan pribadi dan keluarga, melindungi segenap tanah air dan tumpah darah indonesia, dan terlibat aktif dalam percaturan global dan perdamaian dunia, hanya karena itulah akan dicintai dan dikenang rakyat sepanjang sejarah.
  2. Memastikan Pengusaha yang jujur: Kejujuran pemilik modal capital yang dalam melakukan usaha, menghindari kolusi dan nepotisme dengan pemerintah, dengan memastikan ekonomi yang berkeadilan sosial, pengusaha yang jujur akan mempersempit jurang antara yang kaya dan yang miskin karena semakin tersedia dan terbuka kesempatan kerja
  3. Memastikan dan mengupayakan Militer yang kuat: Membangun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang kuat termasuk alat utama dan sistem persenjataannya, sehingga Militer kita diperhitungkan oleh kawan mapun oleh lawan, dengan menempatkan Perwira terbaik pada jabatannya, dengan cara itulah kawasan teritorial dan keamanan nasional Indonesia bisa dijamin.
  4. Memastikan Pendidikan yang bermutu: Pendidikan yang mempriortaskan olah pikir, olah rasa dan olah raga secara berimbang, pendidikan yang berorientasi substantif bukan pendidikan yang berorintasi kepada administratif yang mengukur keberhasilan pendidikan semata-mata di atas data-data.
  5. Memastikan Rakyat sipil yang berwibawa, yang bangga sebagai warga Negara Indonesia (civil society) rakyat yang memahami dan melaksanakan hak dan kewajibannya, rakyat yang bebas dan bertanggung jawab dibawah pengawasan hukum dan hak-hak azasi manusia
  6. Memastikan Balancing Power: Menyemimbangkan 5 kekuatan ini untuk Indonesia yang hebat, Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang membanggakan bukan hanya oleh kita tetapi juga membanggakan bagi dunia. Karena jika salah satunya yang lebih dominan maka stabilitas politik dan ekonomi sebagai syarat menuju kemakmuran yang berkeadilan akan semakin sulit untuk diraih.
Semoga, bangsa ini tidak terjebak lagi ke dalam kontentasi pilpres yang berdasarkan trend dan idola ketokohan, tetapi benar-benar masuk ke wilayah pilpres yang bermartabat dan berkualitas! Saya tidak akan memilih Jokowi atau Prabowo hanya karena persoalan guru, tapi jauh melampui itu sebagai cara turut menentukan masa depan bangsa, kalau alasannya karena persoalan guru saya lebih memilih Ketua Forkom GBDKI dari pada Jokowi atau Prabowo ./[iP] *belajar menelaah dari ilmu yang terbatas*

Menghentikan Honor Sebahagian Guru Bantu DKI adalah Tindakan Tanpa Dasar dan Melawan Hukum

Written By Guru Bantu DKI on Sabtu, 17 Mei 2014 | 11.16



Mantan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Pertanyaan sesuai judul di atas menjadi topic yang hangat di kalangan Guru Bantu DKI Jakarta, khususnya bagi Bapak/Ibu guru yang bertugas pada Satuan Pendidikan tingkat menengah SMU dan SMK yang sudah memiliki sertifikasi guru. Faktanya sejak bulan januari 2014 Honor yang seharusnya diterima secara rutin pertiap bulannya, belum juga diterima sampai tulisan ini dipublikasikan. Alasan secara umum memilih apakah ingin sebagai guru bantu atau sebagai guru yang menerima tunjangan profesi.

Asal mula persoalan adalah penafsiran yang mungkin keliru, atau nyata-nyata keliru yang dilakukan oleh pejabat Kementerian pendidikan dan Kebudayaan khususnya dilingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah yang menanungi Guru Bantu tingkat SMU dan SMK.

Dasar pemikiran yang digunakan Direktorat P2TK Dikmen adalah PP 74 tahun 2008, bahwa Penerima Tunjangan Sertifikasi adalah Guru Tetap Yayasan, Sedangkan Guru Bantu adalah pegawai yang di angkat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan dan berstatus Guru Bantu, sehingga tidak dianggap berhak menerima honor guru bantu jika tenaga pendidik tersebut sudah terdaftar sebagai guru yang menerima tunjangan sertifikasi.

Nampaknya dari beberapa informasi yang beredar dan jawaban yang selalu disampaikan kepada Bapak/ibu guru bantu yang mencari informasi ke P2TK Dikmen adalah: Guru Bantu yang menerima sertifikasi tidak lagi menerima honor Guru bantu karena dianggap berasal dari sumber pembiayaan yang sama, atau dalam pengertian lain yang berhak menerima tunjangan sertifikasi, maka honor guru bantu akan dihentikan (Mohon Koreksi Jika penafsiran penulis keliru). Jika penafsiran pemerintah melalu Dikmen sudah tepat, Penulis akan membantu Pemerintah memahami apa sesungguhnya perbedaan antara “Honor dan Tunjangan”

Pengertian Gaji, Upah, Tunjangan

Gaji adalah suatu bentuk balas jasa ataupun penghargaan yang diberikan secara teratur kepada seorang pegawai atas jasa dan hasil kerjanya. Gaji sering juga disebut sebagai upah, dimana keduanya merupakan suatu bentuk kompensasi, yakni imbalan jasa yang diberikan secara teratur atas prestasi kerja yang diberikan kepada seorang pegawai. Perbedaan gaji dan upah hanya terletak pada kuatnya ikatan kerja dan jangka waktu penerimaannya. Seseorang menerima gaji apabila ikatan kerjanya kuat, sedang seseorang menerima upah apabila ikatannya kerjanya kurang kuat. Dilihat dari jangka waktu penerimaannya, gaji pada umumnya diberikan pada setiap akhir bulan, sedang upah diberikan pada setiap hari ataupun setiap minggu. Dalam hal ini, pengertian gaji untuk seterusnya disebut sebagai gaji pokok.

Besarnya gaji pokok yang diberikan kepada seorang karyawan, biasanya sangat tergantung dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki, kemampuan maupun pengalaman kerjanya.

Tunjangan adalah unsur-unsur balas jasa yang diberikan dalam nilai rupiah secara langsung kepada karyawan individual dan dapat diketahui secara pasti. Tunjangan diberikan kepada karyawan dimaksud agar dapat menimbulkan/meningkatkan semangat kerja dan kegairahan bagi para karyawan. Adapun pelbagai macam tunjangan yang umum selama ini terdapat di dunia kerja baik negeri dan swasta adalah :

1. Tunjangan Jabatan

Tunjangan ini hanya diberikan kepada mereka-mereka yang mempunyai jabatan tertentu, seerpti misalnya: Pengawas, Kepala Bagian, Manajer, ataupun Direktur. Besarnya tunjangan jabatan untuk masing-masing personil tidaklah sama. Hal ini sangat tergantung dengan beban pekerjaan, prestasi yang dihasilkan serta beratnya tangggung jawab pekerjaan yang dipikul. Tunjangan jabatan biasanya diberikan bersama-sama dengan gaji pokok tetapi merupakan komponen yang berbeda dari gaji pokok.

2. Tunjangan Lembur.

Setiap karyawan yang bekerja diluar jam kerja ataupun karyawan yang bekerja pada hari-hari libur, ataupun karyawan yang memiliki jam-kerja lebih besar dari 8 jam dalam sehari, maka sesuai dengan peraturan pemerintah, karyawan yang bersangkutan berhak untuk menerima tunjangan lembur. Besarnya tunjangan lembur ini sangatlah bervariasi, tetapi biasanya setiap perusahaan sudah memiliki peraturan tersendiri yang mengatur secara khusus mengenai besarnya tunjangan lembur setiap karyawan yang mereka miliki. Karyawan bagian pemasaran biasanya tidak memiliki fasilitas yang berupa tunjangan lembur, karena prestasi mereka diukur berdasar omzet penjualan yang mereka hasilkan. sebagai gantinya, biasanya mereka akan mendapat bonus yang besarnya sesuai dengan apa yang mereka hasilkan kepada perusahaan dan bagian ini juga terhitung di luar gaji pokok. Tentu masih banyak jenis tunjangan lainnya yang tidak perlu diuraikan disini.

3. Tunjangan Fungsional / Tunjangan Profesi
Tunjangan jenis ini tidak perlu diuraikan karena sudah jelas dimana subjek penerimanya adalah tenaga pendidik (Guru)


Arti Honor/Gaji Upah menurut kamus Bahasa Indonesia
Berbagai pengertian dalan Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Online Bahasa Indonesia

honor
ho.nor
[n kp] honorarium

honorarium
ho.no.ra.ri.um
[n] upah sbg imbalan jasa (yg diberikan kpd pengarang, penerjemah, dokter, pengacara, konsultan, tenaga honorer); upah di luar gaji


honorer
ho.no.rer
[a] (1) bersifat sbg kehormatan: anggota -- , wasit --; (2) bersifat menerima honorarium (bukan gaji tetap): guru -- , pegawai --


honorifik
ho.no.ri.fik
[a Ling] berkenaan dng penggunaan ungkapan penghormatan dl bahasa untuk menyapa orang tertentu
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/honor/mirip#ixzz32H2uZZMf

tunjangan
tun.jang.an
[v] uang (barang) yg dipakai untuk menunjang; tambahan pendapatan di luar gaji sbg bantuan; sokongan; bantuan
tunjangan anak
tun.jang.an anak
tambahan gaji sbg bantuan untuk anak

tunjangan fungsional
tun.jang.an fungsional
tunjangan profesi (spt peneliti dan dokter) yg diberikan kpd pegawai  sesuai dng pangkatnya

tunjangan istri
tun.jang.an istri
tunjangan untuk istri

tunjangan kemahalan
tun.jang.an kemahalan
tambahan gaji sbg bantuan untuk kemahalan (kenaikan harga keperluan sehari-hari)

tunjangan perceraian
tun.jang.an perceraian
tunjangan yg wajib diberikan oleh bekas suami kpd bekas istrinya berdasarkan ketentuan hukum yg ada

tunjangan struktural
tun.jang.an struktural
tunjangan yg diberikan kpd pegawai negeri yg menduduki jabatan tertentu

tunjangan tahunan
tun.jang.an tahunan
tunjangan yg diberikan secara tahunan dl ukuran kualitas atau kuantitas
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/tunjangan/mirip#ixzz32H39UDFQ


Honor Guru Bantu, khususnya kita fokuskan kepada Guru Bantu DKI dikuatkan setidaknya dengan dua buah peraturan setingkat Menteri,
  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.7 Tahun 2006 tentang Honorarium Guru Bantu
  2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.7 Tahun 2011 tentang Honorarium Guru Bantu
Permendiknas No.7 tahun 2006 ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, dengan menimbang: a) bahwa berdasarkan ketentuan pada Lampiran I dan II Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 034/U/2003 tentang Guru Bantu, kepada Guru Bantu diberikan honorarium sebesar Rp 460.000,- (Empat ratus enam puluh ribu rupiah) per bulan; b) bahwa dalam rangka mendorong upaya peningkatan kinerja guru, perlu menaikkan besaran honorarium sebagaimana tersebut pada pertimbangan huruf a; lalu memutuskan dan menetapkan Guru Bantu diberi honorarium sebesar Rp. 710.000,- (Tujuh ratus sepuluh ribu rupiah) setiap bulan mulai bulan Januari tahun 2006.

Permendiknas No.7 tahun 2011 ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh. Dengan menimbang bahwa untuk lebih meningkatkan kinerja guru bantu, perlu menaikkan besaran honorarium guru bantu; selanjutnya dengan mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, lalu memutuskan dan menetapkan Guru bantu diberikan honorarium sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) setiap bulan mulai Januari 2011.

Jika Dasar pemikiran yang digunakan Direktorat P2TK Dikmen adalah PP 74 tahun 2008, bahwa Penerima Tunjangan Sertifikasi adalah Guru Tetap Yayasan, Sedangkan Guru Bantu adalah pegawai yang di angkat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan dan berstatus Guru Bantu, sehingga tidak dianggap berhak menerima honor guru bantu, jika tenaga pendidik tersebut sudah terdaftar sebagai guru yang menerima tunjangan sertifikasi. Maka Birokrat dilingkungan Ditjen Dikmen sudah melampaui kewenangannya untuk menterjemahkan dan menafsirkan sendiri produk hukum atau tindakan melawan hukum karena seharusnya Permendiknas No.7 tahun 2011 tidak keluar karena bertentangan dengan PP 74 tahun 2008 yang lebih dahulu ditetapkan oleh pemerintah, dan seharusnya menjadi dasar pertimbangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengeluarkan Permendiknas kala itu.

Menteri Pendidikan Nasional kala itu Muhammad Nuh dan sekarangpun masih Muhammad Nuh, tidak menggunakan PP 74 tahun 2008 sebagai pertimbangan untuk menetapkan Permendiknas No.7 tahun 2011, lalu pertanyaanya apa urusan Jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah menjadikan hal ini sebagai rujukan untuk tidak memproses pencairan honor Guru Bantu DKI. Terbukti Dirjen Dikdas dan Dirjen Paudni tidak menggunakannya sebagai dasar dalam menghentikan Honor Guru Bantu, inilah letak persoalan jika birokrat melewati atau merasa mampu melampaui kewenangannya yang diamanatkan oleh peraturan atau ketentuan yang dibuat oleh atasannya dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Honor Guru Bantu DKI Jakarta di akui dan dinyatatakan dengan Permendiknas No.7 Tahun 2011 dan Permendiknas itu masih berlaku hingga saat ini, Permindaknas No.7 tahun 2011 belum direvisi, belum dicabut, dan belum ada Permendiknas baru untuk mengatur persoalan Honor Guru Bantu. Pada Permendiknas tersebut juga sangat nyata tertulis dengan huruf capital menyatakan “HONOR” bukan tunjangan. Bahkan sangat tegas perbedaan antara honor dan tunjangan baik dalam kamus umum Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia Online, termasuk istilah-istilah yang digunakan dalam system ketenagakerjaan Republik Indonesia setidaknya istilah ini bias kita temukan dalam Surat edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor: Se-07/Men/1990 Tentang Pengelompokan Upah. 

Setidaknya tulisan ini dapat menjadi bandingan dari sekian banyak informasi yang ada, agar aparat pemerintah berhati-hati jika mengambil keputusan yang nyata-nyata tidak didalami secara cermat bahkan secara nyata menentang Permendiknas yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan, ini kesimpulan subjektifitas saya. Persoalan ini menjadi begitu penting bukan hanya karena persoalan hukum normative, lebih dari itu ini sudah memasuki wilayah yang sangat subtantif dan prisip menyangkut  hajat hidup orang banyak yaitu keluarga Guru bantu DKI Jakarta. /[iP]

Bahasa Pimpinan Atau Bahasa Pemimpin Pilih Yang Mana

Written By Guru Bantu DKI on Selasa, 06 Mei 2014 | 10.05

Apapun panggilan hidup kita, Bapak dan Ibu harus sanggup berjalan di atas kaki anda sendiri dan berbicara dengan meyakinkan. Ingatlah bahwa berbicara atau berbahasa adalah cara utama untuk mengungkapkan kepribadian kita, dan karena alasan ini,  kita akan unggul jika mengembangkan gaya yang sekaligus kuat dan meyenangkan.

Kita sebaiknya melatih bahasa yang digunakan baik verbal mapun tulisan, baik nyata mapun di dunia maya agar memiliki ritmis dan frase yang enak didengar, juga meneduhkan hati. Jika bahasa yang kita gunakan cenderung melengking, rendahkan sampai lembut dan meyenangkan. Imbuhkan perasaan dan emosi ke dalam kata-kata atau ungkapan yang ingin kita sampaikan, jangan terkesan bermuatan "Bengis atau Fitnah" Kita selagi berbicara dan berbahasa baik lisan maupun tulisan, ayo kita kembangkan nada suara yang kaya akan penghormatan kepada sesama. Bahasa yang indah, santun dan lembut merupakan cara kita memberikan penghormatan dan penghargaan kepada pendengar dan pembaca

Jika kita  pelajari tokoh-tokoh pemimpin terkemuka dalam bidang politik dan kenegaraan, kita akan melihat tokoh yang paling berhasil adalah yang terkenal akan kemampuan mereka  berbicara dengan kekuatan dan keyakinan, bukan hanya kuat dan yakin lebih dari itu mereka memiliki empaty atas keadaan kolega seperjuangannya, dan mengedepankan logika untuk melakukan sesuatu dengan penuh simpati dan perhitungan. Jika pimpinan terbiasa dengan bahasa "Siap grak, hormat, berhenti dan maju jalan" yang bersifat motorik, maka bahasa pemimpin sangat jauh melampaui itu. Bahasa pempimpin adalah bahasa yang meneduhkan, mengayomi, mempersatukan.dan menggerakkan semangat Jika kita ingin menjadi pemimpin tidak ada salahnya sedini mungkin mempernaiki cara kita berbahasa. terlebih lagi berbahasa yang baik menjadikan kita lebih mulia. ada pepatah "hanya intan permata dan logam mulia yang terangkat dari lumpur dan hanya emas permata yang dihitung kadarnya"

Hal yang sama berlaku dalam Pendidikan, Bisnis , dan Industri serta bidang lainnya. Pemimpin yang paling menonjol adalah pria dan wanita yang piawai berbicara di depan publik dan gemar memberikan apresiasi kepada orang lain khusunya koleganya. Demikian juga pada akhirnya mereka yang kemudian ditinggalkan dan dicemoohkan adalah yang gemar melakuan provokasi, baik nyata atau tidak, yang tersembunyi ataupun secara terbuka.

Sebagai seorang pekerja dengan bidang yang kita  tekuni khususnya sebagai pendidik/GB-DKI Jakarta, Kita mungkin tidak akan pernah harus menyampaikan ceramah kepada masyarakat luas. Tetapi, kita tetap akan memperoleh manfaat karena kemampuan  kita untuk berbicara secara meyakinkan dalam perbincangan biasa, tidak percaya? cobalah...pasti akan terlihat hasilnya

Bahasa itu adalah ungkapan, pikiran dan perasaan yang disampaikan dengan alat,  bisa melalui bunyi-bunyian, melalui isyarat, bahkan melalui banyak media dan cara. Apapun caranya yang ternilai selain substansinya adalah siapa orang yang memiliki dan menyampaikan ungkapan, pikiran dan perasaan itu, karena pada akhirnya pasti akan terakumulasi dalam tindakannya yang nyata.

Jika ungkapan, pikiran, perasaan, dan gagasan yang dibungkus dalam bahasa, baik itu lisan maupun tulisan lalu diterima oleh oleh orang lain maka subjeknya akan dinilai. Dinilai sebagai orang baik yang punya visi, kesantunan dan karakter. Singkatnya cerita subjek itu akan ternilai sebagai orang "Cerdas". Cerdas itu adalah formulasi dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku dalam komposisi yang sesuai, terukur dan ternilai. Tetapi jika orang lain kemudian menjadi bersikap dan berfikir sebaliknya, maka subjek yang mengeluarkan bahasa akan dianggap juga sebaliknya .

Misalnya bagi sebagian orang, "anjingnya" adalah pahlawannya karena dia setia menjaga rumah dan hartanya, lalu menunggu dengan sabar tuannya pulang kerumah, mengucapkan selamat datang dengan  kibasan ekornya. Di lain sisi "Anjing" itu adalah sebagai akumulasi teror yang menakutkan bagi sang pencuri, karena hampir tidak punya kesempatan baginya untuk mengaktualisasikan jurus malingnya. yang mengemuka sifatnya subjektifitas  tergantung dari sudut dan cara pandangnya.

Bahasa adalah wakil dari pikiran dan perasaan, dan bahasa yang digunakan sangat mudah untuk membedakan  orang sadar dengan orang yang sedang dipengaruhi "gangguan alkohol". Rasanya tidak perlu menyoal  ke belakang guna mencari alasan dan kesalahan. Yang harus kita lakukan adalah menemukan kelemahan dan kesiapan untuk memperbaikinya.

Dengan semangat kebersamaan, semangat ke-Indonesiaan, saling menyemangati  untuk pantang menyerah, kita bangun karakter GB-DKI dan karakter bangsa melalui bahasa dan tulisan yang jujur dan santun demi mencapai kejayaan kita secara pribadi, dan kejayaan pendidikan persada Indonesia tercinta, sekaligus mampu berdiri tegak dan  berdiri sama tinggi, tanpa harus merendahkan pribadi-pribadi atau komunitas-komunitas lain. Jika soal sebutan "Pahlawan " pastilah mereka semua pejuang. baik itu yang kepagian, kesiangan atau kemalaman, toh semua jenis pekerjaan juga harus berbagi waktu. lagi pula gotong royong juga merupakan karakter asli bangsa Indonesia.[iP]

Petisi Di Antara Aspirasi dan Apresiasi GB-DKI

Written By Guru Bantu DKI on Senin, 31 Maret 2014 | 12.01

Contoh Visual Sebuah Petisi Buruh
Terbaca oleh kita semua isitlah "Petisi" dalam berbagai literatur, Petisi lebih berkonotasi kepada  sebuah dokumen yang isinya memprotes, surat resmi kepada Pemerintah. Petisi lebih bermakna gugatan, permohonan, tuntutan atau permintaan. Petisi fokus sekali kepada persoalan itu. sehingga secara umum Petisi lebih kepada pemaknaan "Gugatan" atas keadaan yang dianggap tidak fair, tidak adil, tidak terlayani, tidak terakomodasi. 

Petisi seringkali digunakan sebagai cara untuk menyampaikan pendapat kepada "kekuasaan" yang tidak mau mendengar, tutup mata dan tutup telinga atas gugatan yang logis dan berdasar. Petisi juga terkadang dijadikan sebutan gerakan 'Putus asa" oleh "kekuasaan" kepada kelompok yang menggugat. Petisi adalah satu dokumen yang berisi butir-butir pernyataan yang tidak hanya dirasakan oleh seseorang, tetapi akumulasi dari pernyataan banyak orang, lintas gender, lintas suku dan agama, bahkan terkadang lintas negara.

Petisi pada akhirnya membuat dua pihak yang bisa dilihat secara jelas, juga dengan perbedaan sikap dan pendapat yang terungkap secara tegas. Jika dimaknai dalam frase yang lebih santun Petisi itu lebih kepada kegiatan menyampaikan aspirasi secara tertulis, dimana tulisan itu merupakan hasil dari berbagai masukan yang mewakili perasaan bersama.

Berbeda dengan Petisi, maka Apresiasi adalah menyatakan keadaan sebaliknya. Apresiasi lebih kepada ungkapan untuk memberikan rasa empaty, rasa simpaty atas kepedulian dan sikap mengakomodir dari satu tuntutan dan "gugatan" atau juga sikap mengakomodir dari sebuah permohonan. (Tepat atau tidak) silahkan Bapak/Ibu Sahabat GB-DKI melengkapinya.

Penggunaan istilah ini mungkin sering kita abaikan, misalnya seorang yang akan menghadiri undangan resepsi pernikahan, mengatakan dengan "keseleo lidah" bahwa mereka akan menghadiri persepsi pernikahan, atau dugaan salah sangka dalam sebuah rapat, dinyatakan dengan "anda telah salah resepsi".

Membaca isi "Petisi" dalam sebuah blog yang akan dipersiapkan oleh GB-DKI untuk Gubernur DKI Jakarta, pada 1 April 2014, menurut saya silahkan saja, termasuk diwajibkan membawa copy SK-GB DKI 2 lembar. Silahkan kepada teman-teman GB DKI mensikapinya, Namun jika membaca isi petisi yang akan disampaikan secara pribadi saya lebih memilih judulnya Apresiasi Kepada Gubernur DKI dari Pada Petisi kepada Gubernur DKI. (Benar atau tidak istilah ini) tentu sahabat GB-DKI bisa menelaahnya lebih dalam, baik karena bidang keilmuannya mupun karena dukungan literatur yang ada. Saya tidak bisa membatu, Saya juga tidak punya pikiran untuk menggangu, hanya bermaksud memberikan arti dari sudut pandang yang berbeda/[iP]

Update Status Facebook Melalui One Heart GB-DKI Jakarta

Screenshot gbdki.blogspot.com
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Guru dalam berbagai Grup GB-DKI atau sebagian pengguna internet memiliki acount facebook. Coba perhatikan di sekeliling kita, banyak sekali account Facebook dengan awalan Guru, coba saja memulai pencarian dengan kata kunci (Guru) pasti jawabannya sangat banyak tersedia. 

Menurut facebook, pengguna facebook di Indonesia  menduduki urutan ketiga terbesar pengguna facebook setelah Amerika Serikat dan Inggeris (data 3 juni 2010) dan mungkin Bapak/Ibu telah mendapatkan data terakhir pengguna Facebook di Indonesia pada tahun 2014
.
Pertanyaan selanjutnya adalah kita membuka facebook rata-rata untuk apa? secara rata-rata kita membuka facebook adalah untuk update status. Beberapa pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita tahu fasilitas apa saja yang ada di facebook, apakah kita merasa aman menggunakan facebook, apakah kita tahu bahaya menggunakan facebook? Sudahkan kita menggunakan facebook untuk meningkatkan kepentingan kita secara aman dan tepat, dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar facebook yang perlu kita gali lebih dalam.

Memiliki account facbeook, sesungguhnya dapat digunakan sebagai media promosi yang epektif, jika kita menggunakannya secara bijak dan tepat. Pertanyaannya tetap kembali kepada alasan mengapa kita harus memiliki facebook, kecuali jika satu-satunya alasan adalah untuk sekedar bersiraturahmi dan berkomunikasi dengan saudara, kolega, dan pencarian teman lama.

Dalam menggunakan Facebook kita juga harus tahu hal-hal yang harus dihindari seperti membuat banyak profile dengan nama samaran kecuali ada alasan khusus dan logid, spaming email, mencantumkan data pribadi yang sangat sensitif; Cukup luangkan waktu singkat dalam  sehari berkunjung ke facebook dengan tak mengabaikan tujuan kita yaitu membangun relasi jangka panjang.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam jangka waktu terbatas itu  adalah Update status, lihat status friends di News Feed dan pilih siapa yang ingin anda lihat, ucapkan ulang tahun pada teman, berikan komentar atau like untuk newsfeed yang berhubungan atau share, cek inbox dan jawab. Dengan hanya meluangkan waktu terbatas, dan jangan sampai mengganggu pekerjaan utama kita sebagai Guru.
Tentu Bapak/Ibu GB-DKI sering melihat status FB dengan tulisan dikirim via
  • BlackBerry Smartphones App
  • Android Smartphones App
  • Samsung Smartphones App
  • Nokia Smartphones App
  • Windows Phone
  • Android dan lain sebagainya yang merupakan perangkat teknologi yang digunakan untuk menyampaikan status Facebooknya.
Berikut adalah alternatif lain dalam menuliskan status FB yang dikirim via: "One Heart GB-DKI Jakarta" tentu trick ini bukan merupakan aplikasi dari program yang rumit, namun demikian terkadang cukup menghibur dan membuat rasa penasaran "Mengapa bisa ya"? iya jawabnya bisa saja kalau kita terbiasa dengan otak atik... Mau mencoba silahkan klick link dibawah ini, GB DKI akan dihubungkan dengan dinding Facebook melalui "One Heart GB-DKI Jakarta" tidak lagi tertulis melalui Blackberry atau Nokia Smart Phone.

CLIK DISINI UNTUK STATUS BARU FACEBOOK GB-DKI JAKARTA 

Link di atas dapat juga ditemukan pada halaman depan blog www.gurubantudki.blogspot.com. Sebenarnya banyak cara yang dapat digunakan untuk memodifikasi FB yang kita kelola caranya berkunjung dan dalami di  Developers.Facebook

Semoga informasi yang sedikit ini bisa menambah manfaat dalam menggunakan facebook dalam waktu terbatas dengan pengelolaan yang maksimal / Irwan Putra.

Ayo Belajar Bersama Dengan Gemar Menulis

Written By Guru Bantu DKI on Minggu, 30 Maret 2014 | 21.23

GB-DKI Online 31 Maret 2014 - Menulis adalah proses transformasi gagasan, pikiran, isi hati maupun imajinasi dalam bentuk bacaan, lalu tulisan itu akan terbaca oleh masyarakat, diharapkan kemudian bacaan itu dapat merubah pola pikir, sikap dan tingkah laku ke arah yang semakin positif, setidaknya seperti itulah pendapat saya.

Pentingnya Menulis
Mungkin sebagian kita belum menyadari pentingnya menulis, tetapi percayalah dengan menulis kita bisa mendapatkan kepuasan di hati, setidaknya pikiran dan isi hati kita bisa terpublikasikan dan terbaca oleh banyak orang. Lebih dari itu tulisan kita bisa saja tidak bermakna diwaktu sekarang, akan tetapi muncul sebagai daftar pustaka dimasa mendatang : Menurut pengalaman saya ada beberapa manfaat ketika kita terbiasa menulis : 

1. Mengekspresikan Isi Hati
Dengan Menulis kita bisa mengekspresikan apa yang ingin kita ungkapkan,Mungkin banyak yang belum menyadarinya sering kali kita menulis untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan,sebagai contoh saja update status di facebook atau men tweet ungkapan hati di twitter dan atau mengungkapkan isi hati kita melalui blog pribadi kita.

2. Berbagi Informasi Kepada Pembaca
Salah satu manfaat lain dari menulis adalah kita bisa berbagi informasi kepada semua masyarakat yang membaca tulisan kita, walaupun ada komentar yang tidak setuju namun kita tetap ingin terus berbagi informasi kepada semua pembaca,lama kelamaan tulisan yang kita tulis akan mendapat penerimaan, yang terpenting adalah tulisan harus jujur, original, dan bermanfaat bagi pembaca

3. Melengkapi Kewajiban Belajar
Jika sahabat GB-DKI seorang Mahasiswa (Barangkali sedang melanjutkan pendidikan) yang masih belajar dierguruan Tinggi ,tentu  pernah mendapatkan tugas dari pembimbing kita,nah kebanyakan tugas itu akan membutuhkan kemampuan menulis baik menulis dengan tangan maupun dengan Komputer(Mengetik). Yang pasti adalah kapasitas sebagai seorang Guru, kemampuan menulis ini merupakan sisi lain dari media menyampaiakan pengetahuan kepada pembaca, terutama kepada peserta didik dalam segala bentuk media yang dihasilkan oleh seorang guru.

4. Sebagai Cara Lain Menambah Penghasilan
Tanpa kita sadari sudah banyak orang yang menjadikan menulis sebagai tambahan penghasilan bahkan menjadikan menulis sebagai penghasilan utama yang menjadi tulang punggung mereka,sebagai contoh mereka yang bertugas di media cetak maupun media informasi online,tanpa menulis mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan.

Diatas adalah beberapa fungsi menulis, namun masih banyak lagi fungsi fungsi menulis yang tidak bisa saya jabarkan disini,dan tentu sahabat-sahabat GB-DKI akan mampu menjabarkan fungsi-fungsi lain dari menulis. Dengan fungsi-fungsi diatas menjadi logis jika menulis  sangatlah penting bagi kehidupan manusia apalagi yang hidup di zaman yang serba modern ini.

Menulis berkaitan erat dengan membaca. Kedua aspek ini yang kemudian mampu meningkatkan imajinasi kita "imagination is more important than knowledge". Tanpa imajinasi, kita tidak akan tergerak untuk mencari ilmu baru. Seperti kata Tria Brilian tentang imajinasi. Membaca akan lebih meningkatkan kinerja otak dibandingkan dengan hanya melihat gambar. Karena dengan membaca, otak kita akan membayangkan tulisan-tulisan tersebut. Sedangkan dengan melihat gambar, otak kita  hanya terbiasa dengan sesuatu yang sudah 'jadi'.

Kepada sahaba-sahabat GB-DKI ayo kita menuliskan gagasan dan pikiran kita, terutama dalam kaitan peningkatan mutu pendidikan Nasional Kita. Tulisan tulisan itu bisa disesuaikan dengan jenjang dimana kita bekerja sebagai seorang Guru, tentu banyak aspek yang dapat kita bahas, baik dari sisi guru sebagai fasilitator pendidikan , dari sisi kelembagaan, dari sisi pemerintah sebagai regulator, dari sisi standar-standar pendidikan yang diberlakukan, dan semua hal yang bersinggungan dengan sektor pendidikan.

Webblog GB-DKI akan mempublikasikan tulisan Bapak/Ibu GB-DKI Jakarta, dengan mempertimbangkan: Tulisan yang original, menginspirasi, bermanfaat, dan menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar. Media ini hanya bermaksud sebagai wadah "berlatih" untuk mempublikasikan tulisan Bapak/ibu GB-DKI, Jika ada media lain yang lebih populer tentu media itulah sebagai pilihan terbaik untuk mempublikasikannya.

Admin Webblog ini akan mempertimbangkan untuk merealisasikan manfaat menulis untuk Bapak/Ibu Guru Bantu-DKI seperti yang diurakan pada poin 1 sampai dengan point 4 di atas. Khusus untuk Point 4 (empat) kami akan melakukannya dengan cara Transfer Pulsa, Baik untuk keperluan Mobile Phone atau Pulsa Modem Internet dengan nominal tertentu sesuai dengan kapasitas tulisannya pada minggu pertama di setiap awal bulan. Sebelum dipublikasikan tulisan dari Bapak/Ibu GB-DKI akan di verifikasi oleh 2 (dua) Orang yang berpengalaman di media online. sertakan NIGB dan Nomor HP/Modem yang digunakan. dan kirimkan via email ke: email@irwantra.esy.es.

Ayo kita terus belajar bersama, untuk peningkatan kualitas secara bersama-sama. terkadang banyak hal yang bisa kita lakukan dengan segera, namun banyak juga hal yang membuat pikiran kita mengirimkan pesan untuk menunda-nunda. Mudah-mudahan Bapak/Ibu GB-DKI senantiasa semakin maju, sukses dan terus menjadi garda terdepan dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. [iP]

Belajar Untuk Mengapresiasi, dan Menganalisa Semua Informasi

Written By Guru Bantu DKI on Sabtu, 29 Maret 2014 | 06.34

Sekarang kita sering melihat banyak sekali orang-orang yang terkadang terlihat berlebihan dalam mengkritik orang lain bahkan kritikan itu terkesan berubah menjadi seperti celaan dan bahkan mengarah kepada suatu bentuk penghinaan. 

Hal ini sering terjadi dan bisa "menghinggapi siapa saja, bisa karena kesengajaan atau bisa juga karena maksud tertentu yang bersifat "memberikan kesan negatif" kepada seseorang atau kelompok.

Harus dipahami dan betul-betul kita pikirkan, sering sekali sebuah informasi ditanggapi dengan kritikan balik, sehingga yang didapat bukan lagi hal yang positif, malah menyakiti hati orang lain dan membuat suatu relasi yang berlangsung baik menjadi terganggu.

Sebenarnya kita sama sekali tidak berhak untuk menghakimi ataupun mencela apakah seseorang itu baik atau tidak. Kita sering memandang seseorang hanya dari sisi luarnya, bahkan untuk seseorang yang sudah kenal dekatpun tidak bisa 100% mengetahui apa isi hatinya. Karena sebenarnya yang Maha Tahu dan hakim yang paling adil hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jadi kita sebaiknya menjaga ego kita, jangan menjadi sombong atau cenderung gemar merendahkan orang lain, apalagi jika seseorang itu telah berbagi, baik itu waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kita semua. Mari kita hargai sesama kita, terima saja semua informasi yang kita terima itu, lalu menganalisanya dengan baik dan mendalam, kemudian memutuskan untuk mengikutinya atau malah menyimpannya karena bisa jadi akan berguna di lain waktu.

Jauhkanlah sikap mencela, merendahkan, atau barangkali tanpa disadari ucapan kita secara lisan atau tulisan berpotensi memfitnah kebaikan orang lain. Mari berusaha melihat lebih banyak kepada kelebihan yang dimiliki orang lain, dengan menghargai gagasannya, cara berfikirnya, informasi yang dibagikannya, bantuan-bantuannya yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan dampak yang luas kepada GB-DKI, Jika kita menghargai orang lain, baik secara pribadi maupun kelompok, maka kita telah  menjaga harmoni dalam hubungan sosial, lebih dari itu akan ada ketenangan dan kedamamaian dalam hati kita.

Dalam kaitan dengan GB-DKI kepada orang-orang yang telah peduli secara pribadi maupun kelompok kepada kita semua, dari kelompok manapun datangnya, baik melalui aksi-aksi yang dilakukannya, maupun yang dikoordinasikannya, bahkan telah meluangkan waktu untuk mewakili kita semua "menerobos" sekat-sekat yang rapat di lingkungan birokrat, serta begitu banyak informasi yang dibagikannya, dan konstribusi dalam segala bentuknya kepada Komunitas GB-DKI, seharusnyalah kita memberikan apresiasi yang tinggi, bukan malah mencurigainya dan dikaitkan dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Berpolitik (walapun itu terjadi sebenarnya sah-sah saja) karena sisi lain dari kepentingan organisasi adalah mencapai satu tujuan dalam segala bentuknya, bisa tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Sering disebut "jangan-jangan untuk tujuan politik". Berorganisasi itu adalah berpolitik, setidaknya belajar berpolitik dalam arti yang luas, bukan politik praktis yang berkonotasi kekuasaan pada level negara.

Yang harus cermat adalah kita semua GB-DKI untuk membaca arahnya, dan tentu Hak semua pribadi-pribadi untuk menentukan sikapnya, yang tidak baik adalah kemudian mencelanya, apalagi sampai memfitnahnya (saya juga tidak punya bukti ada yang memfitnah) tapi selalu melihat orang lain dari sisi baiknya adalah tindakan yang sangat mulia dan terpuji.

Informasi terkadang dengan mudah bisa kita dapatkan di alam kemajuan teknologi seperti sekarang ini, namun ternyata tidak mudah di sebahagian kita untuk menganalisanya, sehingga sering timbul reaksi yang berlebihan yang terkadang tidak perlu terjadi. Informasi itu kemudian berpotensi memunculkan kesalahpahaman antara pemberi dan penerima pesan. Perbedaan persepsi yang diterima oleh penerima pesan dengan pesan yang disampaikan, hal ini sering terjadi karena perbedaan pengetahuan dan penerimaan, perbedaan pengalaman dan perbedaan dalam memaknai bahasa.

Sebelum merespons suatu informasi ada baiknya kita lakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Baca dengan jelas informasi yang didapat
  2. Apakah informasi itu terkait dengan kepentingan kita
  3. Dari mana sumber informasi itu diperoleh
  4. Apa kapasitas dan jabatan sumber informasi yang dimaksud jika berasal dari pejabat pemerintah
  5. Jika informasi itu sudah valid, apakah sudah dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang diwilayah kita berdomisili.
  6. Jika informasi itu valid, tetapi belum resmi diwilayah kita, ada baiknya untuk mempersiapkan diri, karena selalu bersiap-siap akan lebih baik daripada tergesa-gesa.
  7. Jika informasi itu tidak valid, bisa jadi valid bagi orang lain, maka kita sebaiknya menentukan sikap untuk melakukan atau tidak, tetapi tidak untuk menyebarkan atau menyebutkan  informasinya "menyesatkan"
  8. GB-DKI adalah kelompok masyarakat terdidik, ada kemampuan untuk menilai dan membedakan informasi, mana yang kredibel dan informasi mana yang "gosip" maka teguhkanlah keyakinan dan pendirian dalam bersikap
  9. Dalam hubungan GB-DKI dan status kepegawaiannya, sudah pasti akan ada ketentuan, petunjuk dan perangkat lain yang resmi yang bersumber dari Pemerintah, dalam kaitan ini Forum-Komunitas-Kelompok-Perhimpunan GB-DKI dan orang-orang yang mewakilinya tidak memiliki fungsi birokrasi, sahabat-sahabat kita hanyalah bersifat "komite" untuk membantu kita semuanya.
  10. Untuk mempercepat tugas-tugas pemerintah dalam satu pekerjaan administrasi, dimungkinkan untuk memberi ruang partisipasi masyarakat, misalnya dalam kaitan GB-DKI sering sahabat-sahabat kita sampai terlibat bersama-sama birokrat melakukan tatakelola administrasi GB-DKI, Jika sahabat kita jenis ini kita ragukan informasinya, lalu siapa lagi yang mesti kita percaya.
Secara pribadi saya sangat mengapresiasi sahabat-sahabat GB-DKI yang rela berbagi informasi, baik  yang saya terima melalui lisan, mapun saya baca pada beberapa media. Saya khawatir jika semua informasi yang kita dapat lalu kita tindaklanjuti semuanya, bukan tidak mungkin hidup akan berada pada titik cemas terendah. 

Percayakan saja kepada pemerintah untuk bekerja dan secara aktif untuk mengawasinya, apresiasi semua sahabat yang telah membantu,  dan pastikan untuk tidak ketinggalan informasi. Hidup akan indah jika kita memiliki hati yang bersih, selebihnya pastilah sahabat-sahabat saya GB-DKI lebih mampu untuk menjabarkannya./[iP]

Jokowi Menerima Perwakilan Gurubantu DKI Di Balai Kota

Written By Guru Bantu DKI on Minggu, 23 Maret 2014 | 10.59

Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu cita-cita dari perjuangan kemerdekaan bangsa indonesia. Cita-cita ini ditindaklanjuti dengan menempatkan pendidikan sebagai sektor pembangunan yang sangat penting dan selalu memperoleh prioritas dalam program-program pembangunan yang dirancang pemerintah.

Sangat wajar jika bidang pendidikan mendapat perhatian maksimal dari kita semua. Hal ini mengingat sektor pendidikan menjadi jantung bagi kehidupan sebuah bangsa. Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan dengan berhasil tidaknya bangsa mendidik warganya. Jika pendidikan yang di lakukan berhasil niscaya sebuah bangsa akan maju, dan sebaliknya jika pendidikan  yang dilakukan gagal maka bangsa akan mengalami kemandekan atau kegagalan, dan semua itu sangat ditentukan oleh Guru sebagai salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan nasional kita
video


Bermuara Pada Status Kepegawaian dan Kesejahteraan

Selasa, 4 Desember 2012, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan, janji pemerintah sejak 2004 untuk meningkatkan kesejahteraan guru bukan isapan jempol belaka. SBY mengklaim dunia pendidikan saat ini sudah lebih baik. Maka itu, SBY juga menginstruksikan pejabat daerah tidak hanya memberikan janji-janji palsu kepada rakyat. Janji-janji itu harus diwujudkan untuk membawa kebaikan untuk rakyat.


"Apa yang kami pikirkan dan kami lakukan ini bukan sekedar berbicara atau talk only. Tetapi juga kami kembangkan dalam sejumlah kebijakan, peraturan dan aksi-aksi nyata agar semua itu bisa dilaksanakan. Not only talk, tapi juga take action," kata SBY saat berpidato di Peringatan Hari Guru Nasional dan Ultah PGRI di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/12).

Pemerintah, lanjut SBY, terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendidikan di seluruh Tanah Air, termasuk kualitas dan infrastrukturnya, peningkatkan kompetensi dan kesejahtaraan guru. SBY pun terus berkeliling Indonesia melihat keadaan pendidikan secara nyata.
"Bukan saya tidak percaya kepada menteri gubernur serta kepada bupati dan walikota, tetapi sebagai pemimpin saya berkewajiban untuk melakukan pengawasan dan memberikan koreksi-koreksi jika diperlukan, terutama menyangkut hal-hal yang belum baik," jelasnya. Dalam pidatonya tersebut, SBY menginstruksikan kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk memperjelas peraturan pemerintah soal kepemiluan. Ini menyangkut peran guru dalam keterlibatan guru yang sering menjadi korban politik kepemiluan.

"Tidak boleh membawa guru di arena politik. Tidak boleh membawa birokrat ke arena politik. Mereka harus netral dan independen. Kalau mereka mempunya hak politik masing-masing ada aturannya. Silakan gunakan hak politik masing-masing dengan aturan yang ada, tapi jangan campur adukkan kepentingan orang seorang, yang itu menyangkut negara, pemerintah dan profesi yang bebas dari kepentingan politik praktis," jelas SBY.

Guru bantu DKI terus berupaya untuk mendapatkan  kejelasan status kepegawaiannya, bukan semata-mata karena sebagaimana pada uraian Presiden SBY di atas, lebih dari itu merupakan perjuangan untuk mendapatkan keadilan sebagai sebuah profesi, dan kesetaraan dalam perlakuan oleh Pemerintah. 

Perlu dipahami oleh semua pihak, bahwa sebutan "Demonstrasi" yang dialamatkan kepada Gurubantu DKI tidaklah selalu tepat, aksi-aksi yang dilakukan oleh GB-DKI dibeberapa lokasi, baik di Kementerian terkait maupun Balai Kota adalah bagian dari hak menyampaikan aspirasi, karena ke tempat itulah GB-DKI merasa tepat untuk menyampaikan keluh kesah, bukan hanya karena mereka Pejabat Pemerintah, lebih dari itu meraka adalah Pemimpin Rakyat, hal itulah kemudian yang dilakukan oleh Perwakilan GB-DKI beberapa waktu belakangan ini, untuk langsung bertatap muka dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo../ Sumber Video (Iing.S)

Mulutmu Harimaumu

Written By Heru Widhi Handayani on Rabu, 08 Januari 2014 | 05.44

Pepatah lama ini pengingat kita untuk hati-hati dalam berkata-kata. Berpikir dahulu sebelum berucap. Adakah manfaat atau kerugiannya. Adakah justru kata-kata yang kita ucapkan akan berubah menjadi harimau yang siap menerkam diri kita?

Soal pepatah ini saya jadi teringat dengan kata-kata Anas Urbaningrum, mantan ketua umum Partai Demokrat yang mengatakan siap digantung di Monas bila ketahuan sepeserpun korupsi dalam proyek Hambalang. Lalu media elektronik juga sosial media ramai-ramai mengulasnya. Sampai saat ini pun berita hangat menyoroti keengganan Anas dipanggil KPK untuk kedua kalinya.

Nah, dalam diskusi di jejaring dunia maya (Forum Guru Bantu DKI Jakarta, Forum Komunikasi Guru Bantu Indonesia, dan Komunitas Guru Bantu DKI Jakarta) beberapa kali saya menandai ada yang menirukan perkataan seseorang yang siap diiris kupingnya bila guru bantu DKI Jakarta tidak diangkat PNS hingga Desember tahun lalu. Menurut hemat saya, seperti halnya pada Anas Urbaningrum, menjadi menarik bila dalam hal ini mengupas apa yang menjadi motivasi seseorang itu demikian?

Apakah ini yang dinamakan kepercayaan diri atau percaya diri yang berlebihan (overconfidence)?

Psikolog W.H. Miskell di tahun 1939 mengatakan “Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat." Dari pengertian tersebut jelas percaya diri merupakan sifat yang sangat positif. Saya menekankan pada "dapat memanfaatkan secara tepat." Dalam pandangan saya, klausa ini menyiratkan bentuk tanggung jawab dari sikap percaya diri seseorang dalam pengaktualisasian di dalam masyarakat. Termasuk dalam hal ini sesuatu yang logis atau masuk akal.

Hal ini jelas tidak sejalan dengan perkataan "gantung di Monas" atau "iris kuping" tadi. Secara nalar saja ini tidak masuk akal. Seandainya benar Anas korupsi kasus Hambalang, apakah benar akan digantung di Monas? Siapa yang menggantung? Bagaimana dengan hukum yang berlaku di republik ini? Seandainya Desember 2012 sejumlah 5.922 guru bantu DKI Jakarta tidak diangkat PNS, apakah benar seseorang tersebut akan bersedia diiris kupingnya?

Pernyataan tersebut jelas bukan refleksi dari percaya diri. Justru merupakan bentuk dari sikap percaya diri yang berlebihan, dengan kata lain sombong. Ini merupakan bentuk sikap percaya diri yang palsu. Pelaku berharap dengan ucapannya ia dianggap hebat lantaran merasa paling benar dengan ucapannya. Bentuk lain dari percaya diri yang berlebihan lainnya adalah sering membanggakan apa yang menjadi miliknya atau apa yang telah dilakukannya.

Sikap ini berujung pada antikritik dan selalu mencari pembenaran akan kehebatannya dengan berbagai cara: sembunyi-sembunyi--malu-malu--maupun terang-terangan.

Penyebab dari percaya diri yang berlebihan tersebut selain dari ketidakmampuan kontrol diri juga disebabkan tekanan dari lingkungan (faktor intern dan ekstern individu). Lingkungan di sini adalah lingkungan terdekat dari individu itu sendiri yang menuntutnya berperan terlalu banyak atau besar. Akibatnya si individu tertekan dan harus menunjukkan kebisaannya meski dengan menebas batas logika.

Saya tarik ke belakang pada satu pengalaman saya mendatangi pertemuan salah satu kelompok guru bantu prapemilihan gubernur DKI Jakarta. Di sana seorang pengurus dengan mengebu-gebu menyatakan bahwa jika Jokowi berhasil menjadi gubernur maka para relawan guru bantu yang tergabung dalam tim sukses pemenangan gubernurlah yang pertama kali diangkat PNS. Selanjutnya melalui kewenangan mereka (pengurus) membuat prioritas guru-guru bantu yang aktif dalam kegiatan yang didahulukan untuk PNS. Hal ini ditandai dari absensi kehadiran dalam setiap acara.

Saya sempat mendebat seorang ibu yang keukeuh mempertahankan pendapatnya bahwa inilah keputusan politis, tidak bisa diganggu gugat. Guru bantu adalah khusus alias spesial tanpa bisa menjelaskan kekhususannya di mana. Sambil dia menambahkan bahwa guru bantu sepenuhnya harus mendukung salah satu partai pendukung sang gubernur sebagai bentuk konsekuensi politik. Doktrin yang sedemikian cepat merasuk dari sang pemimpin kepada para pion. Logika dibolak-balik: menafikkan peran aparatur pemerintah, berkesan---maaf--sak penake udele dewe (semaunya sendiri).

Logika inilah yang dibalikkan kembali dengan pernyataan "iris kuping" tadi. Pada kenyataannya hingga akhir Desember tidak ada pengangkatan PNS bagi guru bantu. Bila sumber pernyataan tersebut mau mempertanggungjawabkan perkataannya, siapakah yang sanggup menjadi eksekutornya? Kalaupun ini sampai terjadi bisa-bisa si eksekutor terancam masuk jeruji kena delik pidana penganiayaan? Wah berabe kan?

Nah, lantaran kadung malu ucapan tidak sesuai dengan kenyataan maka siap-siap pelaku melakukan cuci tangan. Caranya bisa dengan menyalahkan pihak ketiga. Cuci tangan ini agaknya mulai dilakukan, sayangnya ia lupa bahwa kotoran bukan di tangan melainkan di mukanya. Jadi, masih jelas kelihatan./Hwh


Usaha dan Doa Yang Belum Selesai

Publikasikan Pikiran Anda

Kami menerima dan menerbitkan tulisan sahabat pembaca, akan sangat kami hargai jika tulisan yang dikirimkan sesuai dengan tujuan Guru Bantu DKI Jakarta, terkait status dan masa depannya sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan
Tulisan dapat dikirimkan melaui:

1. amahyas@gmail.com
2. budi92@gmail.com
3. kashkaya@gmail.com

Kami tunggu tulisan dan komentar yang menarik dari sahabat semuanya, dan kami mohon maaf belum bisa memberikan insentif untuk mengganti tulisan yang diterbitkan.

Wasalam

Berita - Politik

News.Detik

Chat Box GB-DKI Jakarta

VIVA News

 
Support : Creating Website | Guru Bantu DKI | Irwantra EDP
Copyright © 2011. Guru Bantu DKI Jakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger